Analisis | Tabungan Orang Kaya Membengkak, Nasabah Kecil Menyusut - Analisis Data Katadata
ANALISIS

Tabungan Orang Kaya Membengkak, Nasabah Kecil Menyusut

Foto: Joshua Siringo-ringo/ Ilustrasi/ Katadata
Dana simpanan perbankan masih didominasi nasabah kaya, yakni pemilik rekening di atas Rp5 miliar. Porsi simpanan mereka terus meningkat. Sedangkan isi tabungan masyarakat bawah menyusut meski jumlah rekeningnya makin banyak. Apakah kesenjangan semakin melebar?
Vika Azkiya Dihni
21 September 2022, 09.43

Dana simpanan di perbankan mencapai Rp7.628 triliun pada Juli 2022, atau tumbuh 7% dalam setahun. Namun kenaikannya tidak merata. Jumlah simpanan nasabah kaya semakin besar. Sebaliknya nasabah kecil justru menyusut.

Kesenjangan ini terlihat dari data distribusi simpanan perbankan yang dirilis Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Jika dilihat dari kelompok penabung, lebih dari 50% berasal dari nasabah yang memiliki simpanan di atas Rp5 miliar. Padahal kelompok ini hanya terdapat 124 ribu rekening atau sekitar 0,03% dari total 491,5 juta rekening.

Dalam satu dekade terakhir, porsi simpanan nasabah pada kelompok tersebut terus membesar dari hanya 45% pada 2013. Di sisi lain, simpanan nasabah di bawah Rp100 juta makin mengecil, meskipun jumlah rekeningnya meningkat yang mencapai 485 juta rekening atau 98,7% dari total rekening (lihat grafik).

Peningkatan jumlah rekening tersebut sejalan program inklusi keuangan yang dijalankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Melalui peningkatan jumlah rekening di perbankan, diharapkan dapat mendorong percepatan pemulihan ekonomi nasional dan peningkatan kesejahteraan.

(Baca: Besar-Kecil Penghasilan Menentukan Belanja Kebutuhan Pokok)

Kendati demikian, banyaknya jumlah rekening tidak berpengaruh pada porsi simpanan kelompok nasabah di bawah Rp100 juta. Pada Juli 2022, hanya Rp978 triliun atau 12,8% dari total dana simpanan perbankan yang dimiliki kelompok nasabah ini. Porsinya pun menurun dibandingkan sebesar 15,7% pada 2013.

(Baca: Nasib Buruh Tergerus Harga BBM dan Dampak Pandemi)

Jika dilihat rata-rata saldonya, kelompok pemilik rekening di bawah Rp100 juta hanya memiliki saldo per rekening sebesar Rp2 juta. Nilainya pun cenderung mengecil, dibandingkan pada 2013 yang rata-rata sebesar Rp4,3 juta.

Sedangkan kelompok pemilik rekening di atas Rp5 miliar rata-rata saldo per rekeningnya terus bertambah. Pada Juli 2022 mencapai Rp31,6 miliar, sedangkan pada 2013 angkanya sebesar Rp26,9 miliar.

Bhima Yudhistira, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), mengatakan lebarnya kesenjangan seperti terlihat di simpanan bank lantaran kelompok pendapatan tinggi memiliki pengetahuan keuangan yang lebih baik. Dia menilai program inklusi keuangan selama ini yang belum optimal.

Persoalannya, program inklusi hanya berupaya mendorong kepemilikan rekening di lembaga formal. “Bukan dari sisi berapa besar penyaluran pinjaman produktif yang dimanfaatkan perorangan,” kata Bhima kepada Katadata.co.id, Selasa, 20 September 2022.

(Baca: Beban Orang Miskin Akibat Kenaikan Harga BBM dan Inflasi)

Lebih lanjut, menurutnya, masih ada kesenjangan pemahaman literasi keuangan. “Sehingga kelompok menengah bawah bingung merencanakan keuangan, terutama saat ekonomi tertekan.”

Akibatnya ketika terpukul krisis ekonomi yang menyebabkan lapangan kerja terbatas dan kenaikan harga kebutuhan pokok, mereka terpaksa mengambil uang simpanan untuk bertahan hidup.

Editor: Aria W. Yudhistira