Advertisement
Analisis | Keramaian dan Mobilitas Masyarakat di Ujung Pandemi - Analisis Data Katadata
ANALISIS

Keramaian dan Mobilitas Masyarakat di Ujung Pandemi

Foto: Joshua Siringo-ringo/ Ilustrasi/ Katadata
Kebiasaan baru yang muncul seiring pandemi Covid-19 berangsur-angsur mulai kembali ke situasi sebelum pandemi. Jalanan kembali macet, pusat-pusat perbelanjaan dipenuhi pengunjung, perkantoran sudah memulai aktivitas kerja tatap muka.
Dzulfiqar Fathur Rahman
19 Oktober 2022, 06.25

Beragam kebiasaan baru muncul selama pandemi Covid-19. Mulai dari berbelanja daring, kerja jarak jauh, serta rapat virtual. Menonton film pun bergeser dari bioskop ke platform aliran video.

Setelah lebih dua tahun pandemi, kebiasaan baru tersebut cenderung berkurang. Data mobilitas yang dihimpun Google menunjukkan tren aktivitas masyarakat di tanah air telah kembali ke kebiasaan lama sebelum pandemi terjadi.

Jumlah pengunjung atau mobilitas masyarakat ke berbagai tempat, seperti pusat perbelanjaan, restoran, kafe, museum, taman hiburan, perpustakaan, dan bioskop telah melampaui level normal sebelum pandemi. Tren serupa juga terlihat pada mobilitas ke tempat-tempat kerja.

Seiring kembali aktifnya kegiatan masyarakat, pemerintah berencana untuk segera mengakhiri pandemi Covid-19. Ini juga sejalan dengan pergeseran strategi pengendalian virus dari pembatasan mobilitas ke vaksinasi.

Mal dan Kantor Makin Ramai

Tren aktivitas masyarakat di luar ruang mulai meningkat sejak Oktober 2021. Ini seiring pelonggaran pembatasan kegiatan masyarakat secara bertahap setelah mulai menurunnya gelombang Delta.

Puncaknya terjadi di tengah masa libur Idul Fitri pada Mei 2022. Saat itu merupakan libur lebaran pertama tanpa pembatasan aktivitas. Masyarakat pun kembali menyerbu pusat-pusat perbelanjaan dan tempat-tempat hiburan lainnya.

Meningkatnya jumlah pengunjung pusat-pusat perbelanjaan juga dirasakan pengelola mal. PT Agung Podomoro Land Tbk yang mengelola tujuh mal di Jakarta membukukan laba kotor Rp240,15 miliar dari segmen penyewaan pusat perbelanjaan sepanjang Januari-Juni 2022.

Angka ini tumbuh 8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Meski demikian, pertumbuhan laba kotor tersebut belum menyamai kinerja sebelum pandemi.

Demikian pula kinerja PT Mitra Adiperkasa Tbk yang mengelola jaringan ritel, kafe, dan restoran. Setelah merosot tajam pada tahun lalu, laba bersih perseroan meroket 316% menjadi Rp1,2 triliun pada semester I-2022.

Tak hanya pusat perbelanjaan, kunjungan ke perkantoran pun mengalami peningkatan. Meski tidak seluruhnya memberlakukan jam kerja penuh, aktivitas di kantor-kantor meningkat. Pada 7 Oktober 2022, tingkat mobilitas di area perkantoran terlihat 16% lebih tinggi dari level sebelum Covid-19.

Colliers International menyebutkan ada peningkatan penyewa kantor baru di ibukota, baik perusahaan swasta maupun BUMN. “Kebanyakan perusahaan masih memilih sistem kerja campuran, tapi kami percaya mayoritas perusahaan akan kembali ke pengaturan tradisional di kantor dalam jangka panjang,” sebut perusahaan konsultan properti tersebut.

Ekonomi Belum Sepenuhnya Pulih

Kebangkitan kunjungan ke tempat-tempat ritel, hiburan, dan perkantoran belum menunjukkan ekonomi sepenuhnya pulih dari pandemi. Indeks Penjualan Riil (IPR), yang merefleksikan kinerja pedagang eceran seperti pasar swalayan, pada September 2022 diperkirakan masih lebih rendah dari level 2019 untuk sebagian besar barang.

Survei yang dirilis Bank Indonesia tersebut mencatat hanya IPR makanan, minuman, dan tembakau, serta bahan bakar kendaraan bermotor, yang telah melampaui level prapandeminya.

Josua Pardede, kepala ekonom Bank Permata, mengatakan bahwa masyarakat cenderung memfokuskan belanjanya ke makanan dan minuman dan menahan belanja barang-barang tahan lama. Ini berkaitan dengan lonjakan harga barang dan jasa konsumen.

(Baca: Mengapa Lonjakan Harga Pangan Paling Memukul Orang Miskin?)

“Sekalipun pada 2021 dan 2022, sudah mulai pulih mobilitasnya, (masyarakat) masih dihadapkan juga dengan kenaikan inflasi,” kata Josua kepada Katadata pada Selasa, 18 Oktober 2022.
Persoalan ini, menurutnya, yang membatasi upaya pemulihan ekonomi ke kembali ke situasi sebelum pandemi.

Editor: Aria W. Yudhistira