Advertisement
Analisis | Beda Posisi Ganjar dan Jokowi Meraih Tiket Capres 2024, Bagaimana Nasibnya? - Analisis Data Katadata
ANALISIS

Beda Posisi Ganjar dan Jokowi Meraih Tiket Capres 2024, Bagaimana Nasibnya?

Foto: Joshua Siringo ringo/ Ilustrasi/ Katadata
Ganjar Pranowo belum mengantongi tiket calon presiden dalam Pilpres 2024 meski memiliki elektabilitas tertinggi. Kondisi ini mirip dengan Jokowi pada 2014 yang baru mendapat dukungan resmi PDIP beberapa saat menjelang Pemilu. Namun ada sejumlah perbedaan antara Ganjar dan Jokowi dalam mendulang dukungan. Ada kelebihan Jokowi yang tidak dimiliki Ganjar.
Reza Pahlevi
7 Maret 2023, 07.00

Dari tiga kandidat calon presiden (capres) dengan tingkat elektabilitas teratas, hanya Ganjar Pranowo yang belum melakukan deklarasi. PDIP, partai politik tempat lelaki berambut putih tersebut bernaung belum memutuskan capres yang bakal diusungnya. Artinya, posisi Ganjar masih belum jelas apakah menjadi calon presiden atau sekadar penggembira dalam pesta demokrasi tahun depan.

Meski sejumlah survei menunjukkan Ganjar memiliki tingkat elektabilitas tertinggi, tetapi tidak membuat gubernur Jawa Tengah ini otomatis mengantongi tiket dalam pemilihan presiden (Pilpres) 2024. 

Situasi yang dihadapi Ganjar saat ini pernah terjadi pada Joko Widodo pada 2014. Jokowi, panggilan akrabnya, baru memperoleh restu dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri sebulan sebelum pemilihan legislatif berlangsung pada April 2014. 

Bukan Megawati yang mengumumkan deklarasi secara langsung, selayaknya partai politik mengumumkan calon presiden. Deklarasi dilakukan melalui surat perintah harian yang dibacakan Ketua Badan Pemenangan Pemilu PDIP Puan Maharani di Lenteng Agung, 14 Maret 2014. 

Masih belum jelasnya status Ganjar, menurut Made Supriatma, peneliti tamu di ISEAS-Yusof Ishak Institute, lantaran dia berada dalam posisi terjepit antara dua kekuatan di lingkaran politiknya, kata dia dalam artikel di Fulcrum, 2 Maret 2023.

Di satu sisi, Ganjar adalah kader PDIP di mana karier politiknya dibangun, mulai dari anggota DPR hingga menjadi gubernur. Alhasil membuat dirinya harus patuh terhadap keputusan partai. Di sisi lain, dia dianggap sebagai “putra mahkota” koalisi partai politik pendukung Presiden Jokowi. 

Artinya, Ganjar berada di antara dua kepentingan politik, yakni PDIP di bawah Megawati dan lingkaran Presiden Jokowi. Jokowi sudah berulang kali memberikan sinyal mendukung Ganjar sebagai capres, tetapi Megawati malah tidak pernah menyebut nama Ganjar dalam berbagai kesempatan. 

Justru Megawati lebih sering meledek Jokowi yang tidak akan bisa menjadi presiden tanpa persetujuannya. Dalam pernyataannya, Jokowi tak lebih dari sekadar “petugas partai”. 

Posisi Ganjar saat ini, membuatnya tidak ingin kehilangan dukungan dari salah satu kekuatan, partai atau presiden. Pendaftaran capres hanya dapat dilakukan oleh partai politik. Sedangkan dukungan Jokowi dibutuhkan karena pengaruhnya untuk mengerek suara dari para relawan. Kondisi terjepit akibat tarik-menarik kekuatan politik pendukungnya ini yang membedakan Ganjar dengan Jokowi pada 2014.

Meski sama-sama kader PDIP, Jokowi relatif baru membangun karier politiknya dari daerah, sehingga tidak memiliki ketergantungan yang tinggi kepada pusat partai. Ini yang membuat Jokowi lebih “independen”, sehingga posisi tawarnya lebih kuat dibandingkan Ganjar.  

Kekuatan Jokowi pada 2014 disokong oleh kelompok relawan yang membuatnya memiliki daya saing tinggi. Kekuatan ini tidak dimiliki Ganjar. Bahkan relawan Jokowi yang sempat menyatakan dukungannya kepada Ganjar, memilih mencabutnya dan mengalihkan dukungan kepada Prabowo Subianto, lawan Jokowi dalam dua kali Pilpres. 

Prabowo kini menjabat sebagai Menteri Pertahanan di kabinet Jokowi kedua. Dia bahkan disebut-sebut bisa menjadi alternatif capres PDIP bilamana dapat mengakomodasi kepentingan PDIP yang menuntut sistem pemilu legislatif proporsional tertutup. 

Lebih lemahnya posisi tawar Ganjar dibandingkan Jokowi juga terlihat dari tingkat elektabilitasnya. Memang elektabilitas Ganjar selalu berada di puncak, tetapi tidak setinggi yang diperoleh Jokowi sebelum resmi dicalonkan. 

Sebelum resmi dideklarasikan, Jokowi telah memimpin dalam berbagai survei capres pada 2013. Padahal namanya baru masuk belakangan dibandingkan nama-nama kandidat lain. Hal ini mengingat, Jokowi baru berada di pentas politik nasional setelah terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta pada 2012. 

Tak butuh waktu lama sejak pertama kali diikutkan dalam survei pada Oktober 2012, nama Jokowi langsung melesat di posisi puncak. Bahkan tingkat elektabilitasnya terus meroket melewati Prabowo yang menjadi promotornya ke dalam pemilihan gubernur Jakarta, sekaligus calon kuat presiden ketika itu. 

Pada Oktober 2013, menurut survei Indikator Politik Indonesia, elektabilitas Jokowi sudah dua kali lipat lebih tinggi dari Prabowo. Melesatnya Jokowi sekaligus membenamkan nama Megawati. Sejak ada Jokowi, elektabilitas putri Sukarno ini terus turun.

Seperti halnya Jokowi, elektabilitas Ganjar juga selalu berada di atas sejak April 2022. Namanya mengungguli Prabowo dan Anies Baswedan yang sudah dideklarasikan sebagai capres. Sementara nama Ketua DPR yang juga salah satu kandidat capres PDIP, Puan Maharani, tenggelam. Elektabilitasnya tidak pernah menembus 2%. 

Kendati yang tertinggi, tetapi elektabilitas Ganjar belum mampu mencapai level Jokowi pada 2014. Elektabilitas Ganjar hanya berkisar di angka 30%. Sementara Jokowi selalu konsisten di atas 30% sebelum dicapreskan, dan melejit hingga 42,8% pada saat resmi dicapreskan. 

Jokowi mampu menjaga jarak yang lebar dengan calon-calon lain. Sementara selisih elektabilitas Ganjar dengan calon lain relatif tipis, kurang dari 10%. 

Ketua DPP PDIP Said Abdullah mengatakan, Megawati baru akan mengumumkan capresnya pada Juni 2023, dua bulan sebelum tenggat pendaftaran. Namun, siapa yang akan dicalonkan PDIP? Apakah Ganjar atau calon lain? 

Mencari Capres yang “Merakyat”

Ben Bland, dalam bukunya Man of Contradictions, menyebut Jokowi berhasil menjual citra merakyat dalam kampanye pencapresannya. Bahkan berhasil menciptakan istilah “blusukan” dalam kosa kata perpolitikan di tanah air. 

Namun pada Pilpres kali ini, apakah masyarakat masih mengharapkan capres memiliki citra merakyat?

Survei yang dilakukan Kurious, bagian dari Katadata Insight Center, menemukan pemilih masih mengharapkan capres berkarakter merakyat. Karakter ini lebih diharapkan dibandingkan karakter lainnya seperti cerdas, berkinerja, atau tegas.

Kondisi harapan masyarakat ini mirip dengan situasi menjelang Pemilu 2014. Namun, karakter merakyat bukan harapan utama para pemilih. Survei Pol-tracking pada Januari 2014 menemukan, capres yang memiliki karakter bersih dan jujur paling didambakan masyarakat. 

Masih tingginya harapan masyarakat terhadap tokoh “merakyat” menunjukkan karakter capres yang mirip Jokowi masih diinginkan. Hal ini terlihat dari survei elektabilitas yang menempatkan Ganjar berada di atas, mengingat dia dinilai sebagai penerus Jokowi. 

Direktur Eksekutif Indikator Politik Burhanuddin Muhtadi mengatakan, kepuasan terhadap kinerja Jokowi berkaitan dengan elektabilitas Ganjar. Buktinya, kata dia, saat kepuasan publik terhadap Jokowi menurun pada November 2022, elektabilitas Ganjar ikut turun. 

Sebaliknya, ketika kepuasan terhadap Jokowi meningkat pada Desember 2022, elektabilitas Ganjar terkerek. “Mudah ya menjelaskannya, sama-sama dari PDIP. Mungkin Ganjar dianggap sebagai little Jokowi,” kata Burhanuddin dalam rilis surveinya pada Januari 2023.

Editor: Aria W. Yudhistira