70 Pabrik Alas Kaki Tutup Terimbas Pelemahan Rupiah

Aria W. Yudhistira
16 September 2015, 18:52
Katadata
KATADATA
Pekerja tengah menyelesaikan pembuatan sepatu di salah satu bengkel kerja di kawasan Kemang, Jakarta beberapa waktu lalu.

KATADATA ? Perlambatan ekonomi yang dibarengi dengan turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menyebabkan 70 pabrik alas kaki di tanah air tutup. Jumlah ini sekitar 19 persen dari total pabrik alas kaki di Indonesia yang mencapai 365 pabrik.

Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko mengatakan, penutupan pabrik merupakan imbas dari melemahnya daya beli masyarakat. Akibatnya, ada sekitar 36 ribu pekerja di sektor alas kaki terpaksa harus dirumahkan. Mereka kebanyakan bekerja di pabrik skala kecil dengan yang berorientasi di pasar domestik.

?Ini karena penjualan alas kaki, terutama lokal turun 17 persen hingga 20 persen pada semester I-2015 dibandingkan semester I-2014,? dia saat ditemui seusai rapat kerja nasional Kamar Dagang dan Industri (Kadin) di Hotel Grand Kemang, Jakarta, Rabu (16/9).

Awalnya, Eddy mengatakan, Aprisindo masih optimistis penjualan masih bisa tumbuh ketika lebaran, namun ternyata daya beli masyarakat masih tertekan. Salah satu cara untuk mengompensasi kerugian akibat turunnya penjualan di pasar domestik, maka industri akan memacu ekspor.

Pada semester I, nilai ekspor alas kaki masih naik 6,8 persen dari tahun lalu. ?Dari pasar ekspor ini kami harapkan penjualan bisa naik dari US$ 4,5 miliar menjadi US$ 4,8 miliar,? ujarnya.

Dia memberitahu, para pekerja yang dirumahkan tersebut masih dapat dipekerjakan kembali apabila daya beli masyarakat membaik dan kondisi perekonomian berjalan normal. Kebanyakan pekerja yang dirumahkan merupakan pegawai kontrak.

?Ini mayoritas pabrik sepatu lokal, kalau pabrik merek besar hampir semuanya sudah pegawai tetap,? kata Eddy.

Kondisi yang sama juga dialami sektor industri makanan dan minuman. Menurut Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) Adhi S. Lukman, ada beberapa pabrik makanan dan minuman yang mulai melakukan pengurangan jam kerja pabriknya. Makanya, dia berharap paket kebijakan pemerintah tahap II dapat menyentuh sektor industri untuk mengurangi pekerja yang dirumahkan.

?Karena merumahkan pekerja ini merupakan jalan terakhir beberapa anggota kami yang tidak tahan (dengan perlambatan ekonomi). Namun untuk angka pastinya masih kami kumpulkan,? kata Adhi.

Reporter: Ameidyo Daud Nasution
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait