Dana Asing Sebabkan Rupiah Meroket

Dalam sepekan rupiah sudah menguat 8,7 persen, atau hampir dari separuh pelemahan kurs sejak awal tahun yang mencapai 19 persen. Investor diingatkan untuk berhati-hati sentimen ini akan sementara
Aria W. Yudhistira
9 Oktober 2015, 10:56
No image
Rupiah menguat hampir 9 persen dalam sepekan, seiring dengan perkembangan ekonomi di Amerika Serikat.

KATADATA - Nilai tukar rupiah kembali mengalami penguatan tajam setelah the Fed memberikan sinyal akan menunda kenaikan suku bunga acuannya hingga tahun depan. Pagi ini, rupiah dibuka pada posisi Rp 13.595 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat 2,1 persen ketimbang penutupan kemarin.

Hingga pukul 10.40, rupiah sudah berada di posisi Rp 13.464 per dolar AS, atau sudah menguat sebesar 1.227 poin dalam sepekan. Jika diakumulasikan, rupiah mengalami kenaikan sebesar 8,7 persen. Ini artinya, hampir separuh pelemahan rupiah sejak awal tahun sudah berkurang yang pada pekan lalu mencapai 18,6 persen.

Penguatan rupiah pagi ini setelah the Fed merilis salinan rapat atau minutes meeting Federal Open Market Committee (FOMC) pada 16-17 September lalu. Dalam rapat tersebut, FOMC cenderung akan menunda kenaikan suku bunga sambil menunggu tambahan informasi mengenai proyeksi pertumbuhan ekonomi AS serta perkembangan inflasi ke depan, terutama sejalan dengan situasi ekonomi global.

“Banyak (peserta rapat) yang mengakui bahwa perkembangan ekonomi dan keuangan global telah meningkatkan risiko terjadinya penurunan aktivitas ekonomi,” seperti dikutip dari minutes FOMC.  

Kepala ekonom Bank Central Asia David Sumual mengatakan, kenaikan nilai tukar rupiah yang tajam dalam beberapa hari ini disebabkan karena nilai rupiah yang sudah sangat murah. Ini terlihat dari tingkat penurunan yang mencapai hampir 19 persen sejak awal tahun. Alhasil ini membuat investor asing kembali masuk membeli aset-aset dalam rupiah.

Kendati begitu, dia melihat penguatan rupiah ini perlu dicermati karena menunjukkan gejolak nilai tukar masih sangat tinggi. Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter perlu berhati-hati dalam menentukan kebijakannya. “Saya pikir sekarang belum memungkinkan untuk menurunkan BI Rate,” kata dia.

Saktiandi Supaat, Head of Foreign Exchange Research Malayan Banking Berhad, selain pengumuman minutes dari the Fed, penguatan rupiah juga didorong sentimen positif dengan mengalirnya dana asing sebesar US$ 49,28 juta ke pasar saham kemarin. Meski begitu, dia menyoroti penguatan rupiah ini kemungkinan akan berlangsung sementara karena masih adanya risiko dari perekonomian Indonesia. Dari data Bursa Efek Indonesia, pembelian asing di bursa saham selama lima hari terakhir sudah mencapai Rp 2,15 triliun.

Reporter: Redaksi
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait