Kurs Rupiah Melemah Saat Pembukaan di Pasar Spot

Analis mengingatkan potensi terjadinya pembalikan arah. Penguatan tajam pada rupiah yang terjadi dalam sepekan terakhir menunjukkan penjualan dolar AS sudah mengarah pada titik jenuh.
Aria W. Yudhistira
8 Oktober 2015, 11:03
Rupiah
Arief Kamaludin|KATADATA
Kurs rupiah dibuka melemah tipis dalam perdagangan di pasar spot hari ini. Analis mengingatkan adanya potensi pembalikan arah setelah rupiah menguat tajam dalam beberapa hari terakhir.

KATADATA - Nilai tukar rupiah melemah tipis dalam pembukaan perdagangan hari ini, Kamis (8/10). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka pada posisi Rp 13.850 per dolar Amerika Serikat (AS), atau turun 29 poin dibandingkan penutupan kemarin Rp 13.850 per dolar AS.

Kekhawatiran terjadinya pembalikan arah sebelumnya sudah disuarakan Saktiandi Supaat, Head of Foreign Exchange Research Malayan Banking Berhad, dalam risetnya kemarin. Dia menilai ada potensi dolar AS mengalami rebound, setelah dalam lima hari perdagangan mengalami pelemahan cukup tajam. Ini menunjukkan terjadi titik jenuh penjualan atau oversold kurs dolar AS.

“Ini menunjukkan potensi dolar AS akan mengalami rebound ke depan,” kata dia. (Baca: Rupiah Menguat Tajam, Investor Perlu Waspada Terjadi Pembalikan Arah)

Selama periode 1-7 Oktober, di pasar spot rupiah tercatat sudah menguat sebesar 6,29 persen. Ini sekaligus menjadi mata uang yang menguat paling tajam di kawasan Asia. Menurut Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara, penguatan rupiah tersebut merupakan gabungan dari faktor eksternal dan domestik. (Lihat: Kembali di Bawah Rp 14.000/$)

Dari luar negeri, faktor penyebab utama adalah data indikator ekonomi AS yang tidak sesuai ekspektasi, terutama data tenaga kerja dan indeks manufaktur. Data tersebut menunjukkan ekonomi AS tidak berada dalam kondisi yang baik, sehingga kenaikan suku bunga atau the Fed rate, yang rencananya akan dilakukan bulan ini atau Desember nanti kemungkinan tertunda. Pelaku pasar mengestimasikan kenaikan tersebut baru akan dilakukan pada kuartal I atau kuartal II tahun depan.  

“Ini membuat di pasar keuangan terjadi pembalikan. Beberapa investor atau spekulan yang tadinya sudah beli dolar di awal melakukan cut lost,” kata dia pengumuman paket kebijakan ekonomi tahap III di Istana Presiden, kemarin. “Selain di Indonesia, (ringgit) Malaysia juga mengalami penguatan.” (Baca: Empat Faktor yang Menyebabkan Rupiah Menguat)

Sementara dari sisi internal, penguatan rupiah juga disebabkan ada respons positif dari pelaku pasar terhadap komitmen pemerintah melakukan deregulasi, serta mereformasi secara struktural ekonomi. Penguatan juga dipengaruhi kebijakan BI untuk menambah suplai valuta asing (valas) di pasar spot dan forward.

BI kemarin mengumumkan posisi cadangan devisa Indonesia sepanjang September turun US$ 3,6 miliar menjadi US$ 101,7 miliar. Penurunan tersebut disebabkan langkah bank sentral melakukan intervensi di pasar keuangan untuk menjaga stabilitas kurs rupiah.

Kendati turun, cadangan devisa masih cukup untuk membiayai 6,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri. Ini di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. “BI menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara. 

Reporter: Aria W. Yudhistira
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait