2016, Ekonomi Indonesia Diprediksi Tumbuh 5,3 Persen

Pemerintah perlu memperhatikan risiko gejolak pasar global, terutama dampak rencana kenaikan suku bunga Amerika Serikat.
Aria W. Yudhistira
5 Oktober 2015, 14:47
Pertumbuhan Ekonomi
Arief Kamaludin|KATADATA
Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan sebesar 5,3 persen.

KATADATA - Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 5,3 persen pada 2016. Proyeksi ini lebih tinggi dari perkiraan pertumbuhan pada tahun ini sebesar 4,7 persen.

Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Indonesia Ndiame Diop memperkirakan, pertumbuhan akan ditopang oleh membaiknya kinerja ekspor, seiring dengan membaiknya harga komoditas di pasar global. Demikian pula dengan investasi pemerintah yang akan meningkat pada tahun depan.

Belanja pemerintah diperkirakan tumbuh 3,2 persen pada 2016, lebih tinggi dari perkiraan tahun ini sebesar 2,1 persen. Begitu juga dengan belanja modal yang diyakini tumbuh 5 persen dibandingkan 3,7 persen yang diperkirakan pada 2015.

Bila belanja pemerintah naik, Diop optimistis konsumsi rumah tangga juga akan meningkat. Bank Dunia memproyeksikan, konsumsi rumah tangga pada tahun ini dan tahun depan diperkirakan tumbuh 4,7 persen dan 5,2 persen.

“Investasi kami yakin akan rebound. Ekspor dan konsumsi juga akan naik,” ujar dia saat memaparkan ulasan ekonomi Asia Timur dan Pasifik di kantornya, Jakarta, Senin (5/10).

Dari sisi ekspor, dia memperkirakan tumbuh 4,7 persen tahun depan dari saat ini negatif 0,2 persen. Sedangkan impor diprediksi tumbuh 3,6 persen tahun depan dan negatif 3,2 persen. Terutama karena perdagangan dunia diperkirakan membaik.

Dengan membaiknya perekonomian Cina, akan mendorong peningkatan permintaan komoditas dari Indonesia. “Dampak dari perdagangan yang membaik, saya pikir ekspor akan pick up karena perekonomian global akan tumbuh tahun depan,” ujar dia.

Ekonom Bank Dunia untuk Indonesia Elitza Mileva menambahkan, meski permintaan komoditas dari Cina meningkat, permintaannya juga tidak akan setinggi ketika terjadi “boom” komoditas. Meski begitu, setidaknya akan berdampak baik bagi ekspor Indonesia sebagai penghasil komoditas.

Perempuan yang baru menjabat tiga bulan di Indonesia ini menilai, ada empat hal mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga tahun depan. Pertama, gejolak ekonomi global yang berpengaruh terhadap harga komoditas. Kedua, investasi pemerintah yang harus ditingkatkan untuk mendorong daya beli masyarakat.

Ketiga, risiko gejolak pasar global yang terutama ketidakpastian kenaikan suku bunga Amerika Serikat (Fed Rate) dan perlambatan ekonomi Cina. Keempat, tekanan terhadap rupiah membuat daya beli masyarakat juga menurun.

Elitza melihat pelemahan rupiah ini sudah berdampak pada kenaikan inflasi inti yang mencapai 5 persen. Dia mengaku sulit memprediksi pelemahan nilai tukar rupiah, sementara, kebijakan moneter yang dilakukan Bank Indonesia (BI) saat ini belum terlalu berdampak untuk bisa menguatkan rupiah.

“Inflasi inti 5 persen, kami concern pada perlambatan ekonomi dan permintaan domestik. BI Rate yang tinggi juga akibat kebijakan November yang membuat inflasi menjadi tinggi. Sekarang tinggal bagaimana paket kebijakan moneter itu bisa menahan dana asing keluar lebih besar (agar rupiah tidak melemah lebih dalam),” kata Elitza.

Reporter: Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait