BI Belum Akan Mengubah Kebijakan Moneternya

Masih ada risiko yang muncul dari ketidakpastian kenaikan suku bunga AS dan dampak devaluasi mata uang Cina
Aria W. Yudhistira
11 September 2015, 17:55
Katadata
KATADATA
BI belum akan mengubah kebijakan moneternya karena melihat ada potensi risiko yang ditimbulkan dari kebijakan the Fed dan dampak devaluasi yuan.

KATADATA ? Bank Indonesia (BI) mengindikasikan masih akan tetap mempertahankan tingkat suku bunga acuan (BI Rate) di posisi 7,5 persen. Masih belum jelasnya rencana kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) dan perkembangan ekonomi Cina menjadi perhatian utama bank sentral.

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung mengatakan, jika melihat kinerja perdagangan, pada Agustus masih mengalami surplus. BI pun menilai laju pertumbuhan ekonomi pada kuartal III akan meningkat seiring mulai lancarnya belanja modal pemerintah. Tapi dari sisi global, terlihat kinerja ekonomi masih menunjukkan pelemahan.

?Pendirian kami sejauh ini masih sama. Belum ada perubahan karena uncertainty (ketidakpastian) di sisi globalnya masih tinggi. (BI) belum buru-buru mengubah pendirian,? kata Juda yang ditemui di kompleks BI, Jumat (11/9).

Analisa yang dilakukan BI menunjukkan ada risiko bank sentral AS, the Fed, memundurkan rencana kenaikan suku bunganya. Tadinya, the Fed akan menaikkan suku bunga pada September ini, tapi kelihatannya akan menunda karena data tenaga kerja di sana masih baik. Begitu pula dari sisi inflasi global yang diproyeksikan tetap rendah.

Advertisement

Menurut dia, kebijakan Cina mendevaluasi mata uangnya cukup berdampak terhadap laju inflasi ini. Penurunan nilai yuan tersebut membuat harga produk Cina menjadi murah, sehingga memberikan dampak inflasi ke berbagai negara, termasuk AS yang banyak mengimpor produk Cina.

?Saya juga sama-sama tidak tahu (kenaikan suku bunga AS). Tapi kemungkinan setelah September. Mungkin Desember,? kata Juda. (Baca: Pemerintah Fokuskan "Paket September" untuk Sektor Riil)

BI, dia melanjutkan, terus mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga AS ini. Caranya dengan tetap terus berada di pasar untuk mengurangi tekanan volatilitas di pasar uang. Ini pula yang terangkum dalam lima kebijakan BI di bidang moneter.

?(Kebijakan) itu sudah efektif. Di pasar uang itu sudah punya dampak positif kepada bunga, kepada bunga di pasar uang, kepada likuiditas. Itu sudah sesuai dengan tujuan kami memperkuat operasi moneter,? ujar Juda. (Baca: Ekonomi Sedang tidak Normal, tapi Bukan Krisis)

Ekonom DBS Group Research Gundy Cahyadi menilai, tidak ada peluang bagi BI untuk menurunkan suku bunga acuan, meskipun langkah itu diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Penurunan tingkat suku bunga justru dikhawatirkan akan menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.  

Dalam pandangannya, peluang BI menaikkan suku bunga justru lebih tinggi ketimbang menurunkannya. Terutama jika risiko yang berasal dari pelemahan nilai tukar semakin meningkat. Apalagi, BI sudah berulang kali mengindikasikan bahwa rupiah masih di bawah nilai riilnya (undervalued).

?Sementara BI kelihatannya tidak ingin melawan pasar. Bank sentral memang telah lebih aktif dalam beberapa pekan terakhir untuk mencegah pelemahan rupiah yang berlebihan,? kata Gundy.

Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan, kondisi perekonomian Indonesia pada saat ini berbeda dengan krisis yang pernah terjadi pada 1998, 2005, dan 2008 lalu. Saat ini, pelaku ekonomi sudah mengetahui rencana kenaikan suku bunga AS, sehingga dapat mengantisipasinya di depan.

Kendati begitu, gejolak ekonomi justru bisa bertambah riskan terkait dengan perkembangan situasi di Cina. Sampai sejauh ini, perlambatan ekonomi di negeri panda itu belum secara pasti diketahui. ?Seberapa jauh Cina akan slowdown. Karena kita tidak tahu persis data tentang Cina. Coba lihat ketika dia mendevaluasi yuan 1,9 persen, persen (pasar) langsung berekspektasi,? kata dia.

Ekonom Mandiri Sekuritas Aldian Taloputra mengatakan, perlambatan ekonomi Cina akan menjadi sentimen lanjutan bagi pasar. Perlambatan ekonomi Cina akan membuat tekanan harga komoditas berlanjut hingga tahun depan. Kondisi ini dikhawatirkan akan mempengaruhi kepercayaan asing untuk berinvestasi di negara yang pasarnya tengah berkembang (emerging market).

Reporter: Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait