Kekhawatiran Investor Cenderung Meningkat

Pemerintah diminta mempercepat pencairan anggaran untuk mendorong konsumsi masyarakat
Aria W. Yudhistira
20 Agustus 2015, 11:57
Katadata
KATADATA
Seseorang melewati papan perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Jakarta beberapa waktu lalu.

KATADATA ? Perekonomian Indonesia menghadapi tantangan yang berat. Selain akibat faktor global, terutama perkembangan yang terjadi di Amerika Serikat (AS), Cina, serta Uni Eropa, kondisi ekonomi di dalam negeri pun tidak menguntungkan. 

Hal ini terlihat dari nilai tukar rupiah yang terus merosot terhadap dolar AS. Bahkan posisinya saat ini yang sudah di atas Rp 13.800 per dolar AS dinilai sama dengan kedudukan sebelum Indonesia terperosok dalam krisis 1998.

Kepala Riset KDB Daewoo Securities Indonesia Taye Shim mengatakan, ada peningkatan kekhawatiran di kalangan investor terhadap kondisi perekonomian dalam negeri. Ini berpotensi menyebabkan terus meningkatnya aliran modal keluar, karena investor ingin mencari tempat yang dinilainya lebih aman (flight to quality).

Apalagi setelah melihat realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2015 yang ternyata hanya sebesar 4,67 persen, turun dibandingkan kuartal I, sekaligus yang terendah sejak 2009. ?Agenda reformasi ekonomi Presiden Joko Widodo pun masih belum jelas,? kata dia dalam risetnya yang diterima Katadata, Kamis (20/8). (Baca: Cegah Modal Keluar, Pemerintah Jaga Kepercayaan Pasar)

Advertisement

Dengan perkembangan ini, lanjut dia, KDB Daewoo merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini dari 5,2 persen menjadi 4,8 persen. Begitu pula dengan proyeksi tahun, turun dari 5,4 persen menjadi 5 persen. ?Alhasil, investor memilih mengabaikan target pertumbuhan sebesar 7 persen pada 2019,? kata dia.

Dalam perhitungan KDB Daewoo, konsumsi rumah tangga masih akan menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi. Namun, realisasi konsumsi pada kuartal II yang menunjukkan penurunan mengindikasikan bahwa Indonesia memasuki siklus defensif.

Memang, lanjut Taye Shim, belanja pemerintah pada semester II akan membantu membalikkan keadaan. Tapi, karena pendapatan perusahaan memburuk membuat penerimaan pajak sulit mencapai target. KDB Daewoo juga memperkirakan pertumbuhan investasi akan stagnan tahun ini, terutama akibat ketidakpastian ekonomi, suku bunga yang tinggi, dan ekspansi yang masih lemah.

Dari sisi perdagangan diproyeksikan masih akan melemah dampak perlambatan ekonomi Cina yang diperkirakan masih akan berlanjut hingga tahun depan. Menurut dia, pertumbuhan ekspor kemungkinan bergantung pada inovasi produk dan murahnya harga, daripada pertumbuhan volume.

Ekonom Universitas Gadjah Mada Tony Prasetiantono mengatakan, investasi pemerintah menjadi andalan utama untuk mendorong konsumsi swasta di tengah perlambatan ekonomi global yang mempengaruhi kinerja perdagangan.Menurut dia, pemerintah akan sulit mencapai target pertumbuhan ekonomi 5,5 persen pada 2016.

?Tidak terbayang kalau harga minyak merosot lagi. Mungkin saya kira akan ada RAPBN-P lagi. Ekspor masih tertekan. Surplus US$ 1,33 miliar kemarin itu jelek, daya beli turun,? kata dia.

Reporter: Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait