Kinerja Perdagangan Indonesia Semakin Mengkhawatirkan

Impor bahan baku dan barang modal yang melemah menunjukkan kegiatan investasi yang berkurang
Aria W. Yudhistira
Oleh Aria W. Yudhistira
18 Agustus 2015, 15:56
Katadata
KATADATA
Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, beberapa waktu lalu.

KATADATA ? Kinerja ekspor-impor Indonesia semakin melemah. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, kinerja ekspor Indonesia Juli sebesar US$ 11,4 miliar, atau turun 19,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ini merupakan kinerja ekspor terburuk sejak Agustus 2012.

Begitu pula dengan kinerja impor yang pada Juli mencatatkan sebesar US$ 10,1 miliar atau turun 28,4 persen dibandingkan setahun lalu. Kinerja impor ini bahkan menjadi yang terendah sejak Juli 2009, ketika Indonesia sedang berusaha mengatasi dampak krisis ekonomi 2008.

Turunnya kinerja ekspor-impor tersebut membuat neraca perdagangan Juli mengalami surplus US$ 1,3 miliar. Data perdagangan ini tidak menunjukkan adanya perbaikan setelah pertumbuhan ekonomi  menunjukkan perlambatan sejak akhir 2009.

Ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih menyatakan, kinerja perdagangan Indonesia mengkhawatirkan. Dia meminta pemerintah perlu memperhatikan secara serius kinerja perdagangannya. Menurunnya kinerja impor, terutama bahan baku dan barang modal, merupakan indikasi adanya perlambatan ekonomi.

Jika ini terus berlanjut, maka kinerja investasi bisa terus melemah, terutama pada tahun depan. Akibatnya, target pertumbuhan ekonomi 2016 yang diinginkan pemerintah sebesar 5,5 persen bisa tidak tercapai.

?Kalau sampai Agustus belum naik juga, itu perlu perhatian serius,? kata Lana saat dihubungi Katadata, Selasa (18/8).

Lebih lanjut dia berharap, pemerintah bisa segera mempercepat penyerapan anggaran, terutama yang dipakai untuk kegiatan investasi. ?Masih ada kemungkinan naik. Tapi kalau impor nggak naik ya perlu ada kewaspadaan tinggi,? kata dia.

Ekonom DBS Group Research Gundy Cahyadi mengatakan, menurunnya kinerja impor merupakan sinyal yang mengkhawatirkan di tengah risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, penurunan impor bukan semata akibat melemahnya nilai tukar rupiah, tapi ada permasalahan dalam permintaan domestik. Data impor yang dirilis BPS mengindikasikan permintaan akan semakin melemah. 

Deputi Bidang Statistik Produksi BPS Adi Lumaksono mengatakan, kinerja ekspor-impor Indonesia dipengaruhi oleh kondisi perekonomian global yang mengalami perlambatan. ?Terutama dikaitkan dengan kurs beberapa negara terhadap dolar AS. Itu akan pengaruhi flow barang dari satu negara ke negara lain. Juga penurunan harga komoditas terutama untuk ekspor,? tutur dia.

Reporter: Desy Setyowati

Video Pilihan

Artikel Terkait