Diprediksi Membaik, Ekonomi 2016 Ditargetkan Tumbuh 5,5 Persen

Depresiasi yuan dan pemulihan ekonomi ke depan diperkirakan akan berpengaruh pada kurs rupiah
Aria W. Yudhistira
Oleh Aria W. Yudhistira
14 Agustus 2015, 16:18
Katadata
KATADATA
Presiden Joko Widodo seusai menyampaikan pidato kenegaraan di depan sidang paripurna DPR, di Gedung MPR/DPR Jakarta, Jumat (14/8).

KATADATA ? Pemerintah memproyeksi kinerja perekonomian pada tahun depan akan membaik. Ini terlihat dari asumsi pertumbuhan ekonomi tahun depan yang ditargetkan sebesar 5,5 persen.

Hal itu disampaikan Presiden Joko Widodo dalam pidato kenegaraan di depan sidang paripurna DPR di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Jumat (14/8). Dia mengatakan, asumsi tersebut disusun dengan memperhitungkan dinamika ekonomi global.

?Pertumbuhan ekonomi ditargetkan 5,5 persen pada 2016. Kondisi ekonomi global diperkirakan membaik sehingga permintaan global naik.?

Presiden menyampaikan, pemerintah akan memacu belanja dan pembiayaan untuk memperbaiki kualitas fiskal 2016. Sementara dari sisi pendapatan, pemberian insentif fiskal untuk mendukung investasi negara.

?Penerimaan pajak tanpa ganggu iklim investasi usaha. Kebijakan perpejakan untuk meningkatkan stabilitas ekonomi nasional, untuk meningkatkan daya beli masyarakat dan daya saing,? kata Presiden.

Pemerintah, lanjut dia, akan mendorong pembangunan infrastruktur yang dapat meningkatkan kinerja  dan konsumsi nasional. Ini didukung dengan menyiapkan anggaran infrastruktur sebesar Rp 313,5 triliun, atau naik sekitar 8 persen dari tahun ini.

?Peningkatan konektivitas nasional dan realokasi ke sektor produktif diharapkan mendorong ekonomi nasional,? kata Presiden. (Baca: FKSSK Nyalakan Lampu Kuning di Pasar Keuangan)

Pada 2016, pemerintah menargetkan inflasi sebesar 4,7 persen, lebih rendah dari tahun ini sebesar 5 persen. Upaya  menjaga inflasi dilakukan dengan menjaga harga pangan, serta berkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI) dan pemerintah daerah.

Dari sisi nilai tukar rupiah, pemerintah menargetkan sebesar Rp 13.400 per dolar Amerika Serikat (AS). Asumsi ini naik dibandingkan tahun ini Rp 12.500 per dolar AS. ?Depresiasi yuan dan pemulihan ekonomi ke depan diperkirakan akan berpengaruh pada kurs rupiah,? kata dia.

Pada tahun ini, pemerintah sudah merevisi pertumbuhan ekonomi sebanyak tiga kali. Dalam APBN 2015, pertumbuhan ekonomi ditargetkan sebesar 5,8 persen, yang kemudian diubah menjadi 5,7 persen dalam APBN-P 2015. 

Pada kuartal II, target pertumbuhan tersebut kemudian direvisi lagi menjadi 5,2 persen-5,4 persen. Namun, setelah melihat realisasi hingga semester I, pemerintah kemudian merevisi menjadi 5 persen. 

Ekonom Bank Danamon Dian Ayu Yustina menilai target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,5 persen masih akan sulit tercapai pada tahun depan. Terlebih di tengah situasi ekonomi dunia yang masih menghadapi pelemahan. 
"Kami perkirakan pertumbuhan ekonomi 2016 berada di kisaran 5,1 persen-5,3 persen," kata dia.

Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang menilai, asumsi rupiah sebesar Rp 13.400 per dolar AS pada tahun depan terlalu optimistis. Menurut dia, pada 2016, rupiah akan berada dalam rentang Rp 14.200 sampai Rp 14.500 per dolar AS. 

Reporter: Desy Setyowati

Video Pilihan

Artikel Terkait