Pemerintah Tak Khawatir Dampak Gagal Bayar Utang Yunani

Terlalu mahal bagi Yunani keluar dari Uni Eropa Dan terlalu mahal bagi Uni Eropa kalau Yunani keluar
Aria W. Yudhistira
29 Juni 2015, 20:36
Katadata
KATADATA
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil.

KATADATA ? Pemerintah tidak terlalu mengkhawatirkan krisis yang terjadi di Yunani. Dampak gagal bayar utang Yunani tersebut memang akan menyebabkan nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), tapi tidak terhadap kinerja perekonomian nasional secara keseluruhan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan, pasar sudah menyesuaikan kondisi yang terjadi di negeri para dewa itu sejak tiga sampai empat bulan lalu. Dengan begitu, gejolak yang muncul karena Yunani gagal memperoleh dana talangan sebesar US$ 7,2 miliar tidak akan signifikan.

Lagipula, menurut dia, akan sulit bagi Yunani dan Uni Eropa bila tidak menemui kesepakatan. ?Terlalu mahal bagi Yunani keluar dari Uni Eropa. Dan terlalu mahal bagi Uni Eropa kalau Yunani keluar. Maka akal sehatnya, begaimana bisa menyelamatkan Yunani,? kata Sofyan di kantornya, Jakarta, Senin (29/6).

Pemerintah, lanjut dia, akan fokus untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama akibat nilai tukar rupiah yang diperkirakan melemah akibat situasi di kawasan Eropa itu.

Advertisement

(Baca: RI Tak Terpengaruh Krisis Yunani)

?Kebijakan yang kami lakukan adalah meningkatkan daya beli masyarakat. Itu yang bisa kami lakukan, kalau faktor eksternal kan sulit. Tentu cadangan devisa akan disiapkan. Dan BI (Bank Indonesia) juga upayakan yang perlu, seperti kemarin UU JPSK (Jaring Pengaman Sistem Keuangan) sudah disiapkan,? kata dia.

Ditempat terpisah, Deputi Gubernur BI Ronald Waas menyampaikan, BI akan mengeluarkan kebijakan pengamanan agar rupiah tidak melemah lebih dalam. Terutama, setelah Yunani menunjukan sikap penolakan terhadap proposal yang disampaikan Komisi Eropa. ?Kami canangkan pengamanan (untuk nilai tukar rupiah). Kami perhatikan fundamental.?

Kepala Ekonom Standard Chartered Eric Sugandi menuturkan, rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG) bisa melemah dengan adanya kondisi di Eropa tersebut. Menurut dia, dolar AS akan semkain menguat, apalagi masih ada kekhawatiran kenaikan suku bunga AS (Fed Rate). Kebijakan the Fed tersebut akan sangat bergantung pada kondisi domestik AS.

?Jadi dolar AS-nya ini akan menguat terhadap euro maupun mata uang emerging markets yang lain termasuk Indonesia. Dampaknya ke situ ya lewat jalur finansial. Terus ada faktor psikologis juga, bursa saham juga karena regional itu merah karena terpengaruh,? ujar dia.

Reporter: Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait