Kinerja Ekspor Rendah Dorong Pelemahan Rupiah

Aria W. Yudhistira
3 Maret 2015, 18:34
Dollar KATADATA | Arief Kamaludin
Dollar KATADATA | Arief Kamaludin
Rupiah menjadi mata uang yang mengalami penurunan paling tinggi di antara negara-negara Asia.

KATADATA ? Rupiah menjadi mata uang yang turun paling tajam di antara mata uang negara-negara di Asia terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Salah satu penyebabnya adalah berkurangnya kepercayaan investor terhadap struktur perekonomian Indonesia.

Padahal tren pelemahan rupiah yang terjadi sejak Juni 2013 semestinya bisa dimanfaatkan untuk mendorong kinerja ekspor. Namun kenyataannya, neraca perdagangan Indonesia selalu negatif. Bahkan defisit perdagangan tersebut sudah terjadi sejak 2012.

Menurut analis pasar uang dari Bank Himpunan Saudara Rully Nova, kebanyakan negara melemahkan nilai kursnya bertujuan untuk mendorong ekspor. Dia mencontohkan pelemahan yen Jepang dan won Korea Selatan yang dapat meningkatkan ekspor manufaktur dari dua negara tersebut.

Persoalannya, ekspor Indonesia selama ini mengandalkan komoditas yang di pasar dunia harganya pun tengah turun. ?Kalau ekspor manufaktur, (pelemahan kurs) akan berpengaruh. Tapi untuk komoditas tidak,? kata Rully saat dihubungi Katadata, Selasa (3/3).

Bagi Indonesia, situasi ini akan tidak menguntungkan dan bisa berdampak buruk terhadap fundamental ekonomi. Apalagi Bank Indonesia (BI) pada pertengahan Februari lalu memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan (BI Rate).

(Baca: Rupiah Melemah Terpengaruh Ekspektasi Penurunan Suku Bunga)

Kebijakan ini dinilai sebagai upaya untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang pada tahun ini ditargetkan sebesar 5,7 persen. Upaya pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi diprediksi bakal meningkatkan impor barang modal yang pada akhirnya dapat menekan nilai rupiah.

?Banyak kerugiannya justru bagi Indonesia. Kalau rupiah terus melemah, kepercayaan investor juga akan turun,? ujarnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Januari lalu, neraca perdagangan Indonesia memang mencatatkan surplus US$ 0,71 miliar. Namun, surplus tersebut tidak didorong oleh membaiknya kinerja ekspor, terutama nonmigas.

Ekspor nonmigas pada Januari mencapai US$ 11,2 miliar, turun 8,5 persen dibandingkan Desember 2014. Sementara bila dibandingkan dengan ekspor Januari 2014 turun 6,2 persen.

(Baca: Rupiah Melemah Paling Dalam di Antara Negara Asia)

Di sisi lain, kinerja impor pada Januari juga mengalami penurunan yang signifikan hingga 12,8 persen dibandingkan Desember 2014 atau sebesar 15,6 persen terhadap ekspor Januari 2014. Berkurangnya impor tersebut terutama turunnya impor migas hingga 37,6 persen dibandingkan Desember 2014.

Analis Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menilai, kebijakan sejumlah negara yang menurunkan suku bunga membuat nilai tukar dolar AS semakin kuat. Hal ini ikut berdampak terhadap rupiah, apalagi BI pun turut menurunkan suku bunga acuan.

Meski begitu, dia optimistis, penurunan BI Rate akan berdampak positif untuk menggerakkan perekonomian. ?Dalam jangka panjang, pemangkasan suku bunga yang bila diikuti penurunan suku bunga kredit tentu akan mendorong aktivitas bisnis, yang pada akhirnya mendukung pertumbuhan ekonomi.?

Wakil Presiden Jusuf Kalla, seperti diberitakan, menyatakan pelemahan kurs rupiah yang terjadi saat ini akan bagus bagi perekonomian Indonesia. Ini karena turunnya nilai rupiah bisa meningkatkan pendapatan dari ekspor. 

Reporter: Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait