Bailout Yunani Alot, Rupiah pun Ikut Tertekan

Kekhawatiran pasar akan ancaman keluarnya Yunani dari zona Eropa membuat dolar AS semakin bullish
Aria W. Yudhistira
13 Februari 2015, 15:54
Katadata
KATADATA
Kurs rupiah melemah mendekati level Rp 13.000 per dolar AS seiring buntunya pertemuan Yunani dengan Uni Eropa.

KATADATA ? Gagalnya Yunani memperoleh bailout dari Uni Eropa dan Dana Moneter Internasional (IMF) membuat mata uang euro melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan tersebut berimbas pada mata uang lain, termasuk rupiah yang sempat mendekati level Rp 12.900 per dolar AS.

Ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih mengatakan, Jerman enggan menyetujui pemberian dana talangan ke Yunani. Penyebabnya, negeri mitologi para dewa itu menolak persyaratan yang diajukan Uni Eropa.

?Dia (Yunani) kan menolak (kebijakan) pengetatan. Nah kegagalan (bailout) ini membuat mata uangnya semakin melemah, dan dolar jadi menguat lagi,? ujarnya saat dihubungi Katadata, Jumat (13/2).

Penguatan dolar AS ini membuat sejumlah mata uang dunia melemah. Dalam lima hari terakhir, kurs euro tercatat melemah 0,9 persen, kemudian dolar Australia (0,4 persen), ringgit Malaysia (0,8 persen), rupiah (0,7), dan yen Jepang (0,2 persen).

Advertisement

Rupiah pada hari ini diperdagangkan di kisaran Rp 12.730-Rp 12.810 per dolar AS. Lana memperkirakan, rupiah masih akan berjuang keras menghadapi tekanan dari dolar AS. ?Tapi, rupiah masih lebih baik jika dibandingkan dengan mata uang lainnya,? tutur dia.

Analis Universal Broker Alwi Assegaf menambahkan, kekhawatiran pasar akan ancaman keluarnya Yunani dari zona Eropa membuat dolar AS semakin bullish. Belum lagi, bank sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) memang sengaja melemahkan mata uangnya. Begitu juga yang dilakukan oleh Singapura.

Dari sisi internal, perlambatan ekonomi juga menekan nilai tukar rupiah. Alwi pun mengatakan, posisi psikologis rupiah saat ini berada pada level Rp 13.000 per dolar AS. Dia memperkirakan kurs rupiah sebesar Rp 12.710 - Rp 12.835 per dolar AS dalam tempo dekat.

?Kalau data defisit transaksi berjalan membaik, mungkin rupiah akan sedikit terapresiasi,? tutur dia.

Analis Worry Korindo Securities Reza Priyambada juga mengatakan, meski pertemuan negara-negara Eropa akan kembali digelar Senin (16/2) mendatang, namun kekhawatiran pasar akan gagalnya kesepakatan membuat mata uangnya dan Asia melemah. 

Reporter: Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait