Subsidi Premium Dicabut, Kendali Harga Tetap di Pemerintah

Jika skema ini sudah berjalan akan diberikan kelonggaran kepada pelaku pasar untuk menentukan harga
Aria W. Yudhistira
5 Januari 2015, 15:51
BBM
Arief Kamaludin|KATADATA
Pengendara mengisi kendaraan roda dua miliknya di salah satu SPBU di kawasan Jakarta Pusat. Pemerintah mencabut subsidi BBM jenis premium mulai 1 Januari 2015.

KATADATA ? Pemerintah telah mencabut subsidi bahan bakar minyak (BBM) jenis premium mulai 1 Januari 2015. Meski begitu, pemerintah masih campur tangan dalam penentuan harga bensin dengan Research Octane Number (RON) 88 tersebut.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said mengatakan, pemerintah tetap menentukan harga jual premium dan tidak sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pasar.

?Meskipun dilepas pada (harga) keekonomian pasar, tapi bukan berarti pasar menentukan sendiri harganya,? kata Sudirman.

Penentuan harga dasar dan eceran ini ditetapkan melalui Menteri ESDM setiap bulan. Adapun harga dasar terdiri dari biaya perolehan, biaya distribusi, biaya penyimpanan, serta margin.

Advertisement

Dalam menghitung harga dasar pemerintah menggunakan rata-rata harga indeks minyak dan nilai tukar dolar Amerika Serikat berdasarkan kurs beli Bank Indonesia. Kedua harga rata-rata tersebut diambil selama periode tanggal 25 sampai 24 bulan sebelumnya. ?Masyarakat diajak membiasakan diri dengan dinamika harga keekonomian.?

Lebih lanjut dia menjelaskan, ada tiga kategori BBM dalam kebijakan baru pemerintah tersebut. Pertama, BBM tertentu yang masih disubsidi, yakni minyak tanah (kerosene) dan solar. Harga minyak tanah ditetapkan Rp 2.500 per liter, sedangkan subsidi untuk solar maksimal Rp 1.000 per liter.

Kedua, BBM khusus atau penugasan, yaitu bensin RON 88 nonsubsidi yang didistribusikan ke luar Pulau Jawa, Madura, dan Bali. Pemerintah memberikan penugasan khusus kepada Pertamina untuk menyalurkan BBM ke wilayah-wilayah tersebut karena dinilai jauh dan sulit.

Ada biaya tambahan distribusi dan penyimpanan sebesar 2 persen dari harga dasar dalam kategori BBM ini. Adapun selanjutnya, penugasan tersebut diatur oleh Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas.

Ketiga, BBM umum yakni bensin premium yang tidak disubsidi dan berlaku untuk wilayah Jawa, Madura, dan Bali. Harga bensin RON 88 ini diatur batasan marginnya, yakni maksimal 10 persen dan minimal 5 persen.

Sudirman mengatakan, saat ini harga BBM tersebut masih bersifat tunggal atau single price yang ditetapkan oleh pemerintah karena masih dalam masa transisi. Jika skema ini sudah berjalan, akan diberikan kelonggaran kepada pelaku pasar untuk menentukan harga.

?Ini sebagai dorongan juga kepada Pertamina supaya lebih menata diri. Jadi diberikan margin yang cukup, tapi juga diminta melakukan penataan-penataan,? kata Sudirman seperti dikutip dari laman Kementerian ESDM. ?Termasuk bagaimana mempercepat pembangunan kilang dan menjamin ketersediaan distribusi di seluruh wilayah Indonesia.?

Berdasarkan keterangan pemerintah, mulai 1 Januari 2015 harga premium umum maupun penugasan khusus diberlakukan sama sebesar Rp 7.600 per liter. Adapun untuk harga minyak tanah Rp 2.500 per liter, sedangkan solar Rp 7.250 per liter.

Reporter: Arnold Sirait
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait