Antisipasi Rupiah Turun Lebih Dalam, BI Diprediksi Naikkan Suku Bunga

Membaiknya perekonomian AS membuat investor berpikir untuk mengalihkan investasinya ke negara Paman Sam
Aria W. Yudhistira
16 Desember 2014, 11:57
Katadata
KATADATA | Agung Samosir
Bank Indonesia diprediksi menaikkan suku bunga acuan untuk mengantisipasi pelemahan kurs rupiah semakin dalam.

KATADATA ? Bank Indonesia (BI) dapat menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) untuk mencegah pelemahan rupiah yang lebih dalam. Kenaikan suku bunga tersebut sekaligus untuk mengimbangi kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS). 

Menurut ekonom PT Bank Permata Tbk Joshua Pardede, dengan suku bunga yang tinggi bisa menahan aliran modal keluar dari pasar dalam negeri. Persoalannya, dengan membaiknya perekonomian AS membuat investor berpikir untuk mengalihkan investasinya ke negara Paman Sam itu. Apalagi, the Fed berencana menaikkan suku bunga.

?Saya pikir akan ada kombinasi kebijakan. Fasilitas Simpanan BI (Fasbi) akan naik dulu. Kalau belum cukup, BI Rate naik lagi 25 basis poin (bps) untuk antisipasi keluarnya modal asing imbas kenaikan Fed Rate,? kata dia saat dihubungi Katadata, Selasa (16/12).

(Baca: Hadapi Pelemahan Rupiah, BI Minta Pemerintah Disiplin Jaga Fiskal)

Advertisement

BI pada 18 November lalu menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 7,75 persen sebagai respons kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Adapun suku bunga fasilitas pinjaman dan simpanan masing-masing sebesar 8 persen dan 5,75 persen.

?Kemungkinan besar, Fasbi dulu yang naik. Sekarang selisihnya sudah 200 bps, padahal dalam keadaan normal hanya 100-150 bps,? kata Joshua.

Kepala Riset Trimegah Securities Sebastian Tobing menyatakan hal yang sama dengan Joshua. Kenaikan suku bunga acuan merupakan salah satu pilihan kebijakan untuk menahan aliran modal keluar. Menurutnya, pelemahan kurs rupiah yang terjadi saat ini menunjukkan investor asing mulai mereposisi dananya ke AS.  

Dia memperkirakan, dana asing yang keluar akibat kenaikan suku bunga the Fed pada tahun depan bisa mencapai US$ 300 juta-US$ 500 juta. Adapun selama periode 1-15 Desember, aliran dana asing yang keluar di pasar modal Indonesia mencapai Rp 3,01 triliun.

?Kami lihat BI cenderung hati-hati. Ekspektasi kami, dengan tren sikap BI ini, mereka bisa menaikkan (BI Rate) lagi 25 bps,? kata Sebastian.

Reporter: Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait