Saham Emiten Sawit dan Batubara Masih Ada Prospek Tahun Depan

Woori memperkirakan akan ada normalisasi permintaan CPO dari Cina Eropa dan India karena persediaannya yang sedikit
Aria W. Yudhistira
15 Desember 2014, 12:02
saham_obligasi
KATADATA

KATADATA ? Saham-saham emiten di sektor komoditas minyak sawit dan batubara dinilai masih memiliki prospek pada tahun depan. Kebutuhan energi alternatif diprediksi masih tetap tinggi meski perekonomian global mengalami perlambatan.

Analis Woori Korindo Securities Bagus Permadi memperkirakan, akan ada kemajuan yang siginifikan dalam penerapan biodiesel di Malaysia dan Indonesia pada tahun depan. Ini sejalan dengan pemotongan subsidi bahan bakar minyak (BBM) di dua negara produsen minyak sawit terbesar di dunia itu.

?Pemotongan subsidi membuat harga biodiesel menjadi lebih kompetitif dibandingkan sebelumnya,? kata Bagus dalam laporannya, Senin (15/12).

Beberapa faktor yang akan mendongkrak kinerja emiten sawit antara lain pembebasan pajak yang memungkinkan produsen mengekspor kelebihan stok. Depresiasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) juga membuat harga minyak sawit lebih murah untuk pembeli global.

Advertisement

Selain itu, Woori memperkirakan, akan ada normalisasi permintaan dari Cina, Eropa, dan India karena persediaannya yang sedikit.

Bagus merekomendasikan saham PT Astra Agro Lestari dan PT Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia untuk diperhatikan pada tahun depan. Astra Agro memiliki kapitalisasi pasar terbesar dibandingkan emiten perkebunan lainnya. Perseroan pun berhasil mempertahankan margin keuntungan yang yang lebih tinggi saat kondisi harga CPO rendah. 

Langkah perusahaan mengakuisisi 50 persen saham KL Kepong Bhd di Malaysia juga telah menyeimbangkan usaha di sektor hilir. Sedangkan London Sumatera, memiliki potensial tumbuh dengan tanaman yang rata-rata berusia 11 tahun.

Sementara di sektor batubara, Woori memperkirakan pemulihan akan terjadi pada kuartal IV-2015. Ini seiring pasokan di pasar akan ketat dan meningkatkan permintaan. Faktor-faktor ini akan membuat harga batubara kembali naik.  

Peningkatan permintaan terutama terjadi di Cina. Di negara ini 82 persen pembangkit listrik menggunakan batubara. ?Saat ini tidak ada alternatif lain yang layak untuk Cina. Dalam jangka pendek, mereka akan mempertahankan kebutuhan energi batubaranya,? kata dia.

Sementara India, ada potensi konsumsi batubara meningkat karena percepatan pembangunan industri dan infrastrukturnya. Prospek impor juga lebih tinggi, lantaran Mahkamah Agung India telah membatalkan 200 izin pertambangan lokal.  

Woori merekomendasi saham PT Adaro karena merupakan produsen batubara kalori rendah terbesar di Indonesia. Diversifikasi yang dilakukan oleh perusahaan ini, akan mengurangi dampak harga batubara yang rendah. Perseroan ini juga memenangkan empat konsesi izin usaha pertambangan (IUP), sehingga masa penambangannya diperpanjang.

Reporter: Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait