Hadapi MEA 2015, Hanya 50 Persen Perusahaan RI Siap Berinovasi

Inovasi merupakan faktor utama untuk menghadapi persaingan di pasar bebas dan melebarkan sayap perusahaan
Aria W. Yudhistira
10 Desember 2014, 15:41
Katadata
KATADATA
Center of Innovation and Collaboration Coordinator PPM Manajemen, Erlinda N Yunus

KATADATA ? Hanya sekitar 50 persen perusahaan di Indonesia yang siap melakukan inovasi. Padahal inovasi merupakan kunci untuk menghadapi persaingan dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan berlaku akhir 2015.

Hal itu diketahui dari hasil riset Center of Innovation and Collaboration (CIC) PPM Manajemen yang melibatkan 230 responden perusahaan. Riset dilakukan selama tujuh bulan sejak Februari 2014.

?Padahal inovasi merupakan faktor utama untuk menghadapi persaingan di pasar bebas dan melebarkan sayap perusahaan,? kata Koordinator CIC-PPM Manajemen Erlinda N. Yunus ketika memaparkan hasil risetnya pada seminar bertajuk ?Angkat Daya Saing Melalui Inovasi? yang digelar PPM Manajemen bekerja sama dengan Katadata di Jakarta, Rabu (10/12).

Kesiapan perusahaan untuk berinovasi atau Innovation Quotient diukur melalui tiga dimensi, yaitu budaya organisasi, lingkungan perusahaan, dan sumber daya yang dimiliki. Faktor sumber daya, terutama sumber daya manusia, menurut riset CIC-PPM Manajemen, menjadi titik lemah yang paling dominan dari 230 perusahaan yang menjadi responden.

Advertisement

Kelemahan SDM ini pula yang menempatkan Indonesia tahun ini berada di peringkat 87. Peringkat ini merosot dari 85 pada 2013 dalam Indeks Inovasi Global yang dirilis oleh Cornell University, INSEAD, dan Organisasi Kekayaan Intelektual Dunia (WIPO) PBB.

Di Asia Tenggara, posisi Indonesia lebih rendah dibanding Singapura (7), Malaysia (33), Thailand (48), dan Vietnam (71). Posisi  ini berbanding lurus dengan jumlah periset untuk tiap satu juta penduduk yang dimiliki oleh negara-negara tersebut. Malaysia, misalnya, memiliki periset 15 kali lebih banyak dibanding Indonesia.

?Pekerjaan rumah kita saat ini adalah visi, daya saing, dan inovasi untuk hadapi MEA,? tutur Staf Ahli Menteri Perdagangan Bidang Diplomasi Perdagangan Sondang Anggraini.

Dari sisi dunia usaha, para pelaku usaha nasional perlu menguatkan strategi penguasaan pasar domestik dan ekspansi ke luar. Selain itu perlu meningkatkan kualitas usaha mikro, kecil, dan menegah (UMKM) sehingga dapat dipastikan siap untuk memasuki pasar ekonomi baru ASEAN.

Dari sisi tenaga kerja, yang bisa masuk pasar ekonomi ASEAN itu adalah mereka yang memiliki keahlian, produktivitas tinggi, serta mampu berkompetisi.

?Sistem pendidikan di sisi lain harus semakin mampu menghasilkan sumber daya manusia yang kreatif, dinamis, dan berdaya saing internasional,? ujarnya.

Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sebanyak 70,4 persen SDM Indonesia hanya memiliki pendidikan dasar. Angka ini jauh perbandingannya dengan negara anggota ASEAN lain seperti Malaysia.

Reporter: Petrus Lelyemin
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait