Rupiah di Posisi Terendah Sejak Krisis 2008

Pelemahan nilai tukar dipicu data kinerja ekspor Indonesia yang di luar ekspektasi pasar
Aria W. Yudhistira
4 Desember 2014, 16:39
Rupiah
Arief Kamaludin|KATADATA
Kinerja perdagangan Indonesia yang tidak sesuai ekspektasi membuat kurs rupiah berada di posisi terendah sejak periode krisis 1998.

KATADATA ? Kurs rupiah berada dalam posisi terendah sejak periode krisis 2008 lalu. Pada periode itu, rupiah sempat menyentuh angka Rp 12.650 per dolar Amerika Serikat (AS). 

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Kamis (4/12), nilai tukar rupiah ditutup di level Rp 12.309 per dolar AS. Nilai tukar rupiah ini lebih rendah 9,5 persen dibandingkan posisi pada 17 Maret 2014 lalu, ketika Joko Widodo diumumkan sebagai calon presiden.

Pelemahan nilai tukar tersebut dipicu data kinerja ekspor Indonesia yang di luar ekspektasi pasar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor Oktober turun 2,21 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Demikian pula dengan impor yang juga turun 2,21 persen. Ini hanya menghasilkan surplus perdagangan sebesar US$ 23 juta.

?Data internal kita nggak terlalu menggembiarkan. Kan surplus baru US$ 23 juta. Itu kecil sekali,? kata Kepala Ekonom PT Bank Tabungan Negara Tbk Agustinus Prasetyantoko saat dihubungi Katadata, Kamis (4/12).

Advertisement

Dalam 12 kuartal terakhir, neraca transaksi berjalan Indonesia tercatat mengalami defisit. Pada kuartal III-2014, defisit neraca transaksi berjalan sebesar 3,07 persen, turun dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 4,06 persen. Namun, dengan surplus perdagangan yang sedikit pada Oktober lalu, membuat defisit transaksi berjalan berpotensi kembali naik.

Dengan neraca transaksi berjalan yang defisit membuat investor menilai Indonesia kurang menarik sebagai tempat berinvestasi. Kuncinya, pemerintah dapat meningkatkan ekspor di sektor nonmigas.  

Prasetyantoko menilai, pelemahan rupiah juga dipengaruhi faktor eksternal, terutama akibat perlambatan ekonoi di Cina. Berdasarkan proyeksi Dana Moneter Internasonal (IMF), pertumbuhan ekonomi negeri ?panda? tersebut hanya sebesar 7,5 persen pada tahun ini, dan 7,3 persen pada 2015. Padahal, negeri ini merupakan mitra dagang utama bagi Indonesia.

Menurut David Sumual, ekonom PT Bank Central Asia Tbk, pelemahan rupiah merupakan imbas dari menguatnya kurs dolar AS serta harga minyak dunia yang terus merosot. Hal ini membuat ekonomi di Jepang dan kawasan Euro ikutan melemah. Apalagi, bank sentral AS, the Fed, tetap berencana menaikkan suku bunga acuan.

Dengan kondisi global seperti ini, dia memprediksi, rupiah bisa terus melemah. Persoalannya, belum ada sentimen positif di dalam negeri yang membuat rupiah menguat.

?Kecuali kalau reformasi struktural Jokowi mampu menarik FDI (Foreign Direct Investment/ investasi asing langsung) dan neraca perdagangan lebih positif, bisa jadi katalis untuk rupiah menguat,? kata David.   

Reporter: Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait