Dua Garis Biru, Problematika Kehamilan Remaja

Dampak kehamilan tak diinginkan di kalangan remaja tidak hanya menyangkut pada masalah kesehatan, melainkan juga persoalan ekonomi.
Andrea Lidwina
Oleh Andrea Lidwina
23 Juli 2019, 13:03

Film Dua Garis Biru, karya debut dari sutradara Gina S. Noer, menyoroti isu kehamilan tak diinginkan pada usia remaja di Indonesia. Dara dan Bima, dua tokoh utama dalam film ini, masih duduk di bangku SMA ketika kehamilan itu terjadi. Akibatnya, Dara dikeluarkan dari sekolah dan Bima harus bekerja sembari menyelesaikan pendidikannya. Tak hanya itu, keluarga Dara dan Bima pun ikut terkena dampaknya.

Seperti yang digambarkan dalam film Dua Garis Biru, dampak kehamilan tak diinginkan di kalangan remaja tidak hanya menyangkut pada masalah kesehatan, melainkan juga persoalan ekonomi.

Perempuan merupakan pihak yang paling terkena dampak kehamilan pada usia remaja. Dari segi kesehatan, kehamilan remaja rentan mengakibatkan kematian pada ibu dan bayi. Sementara itu, dari segi pendidikan, remaja perempuan yang pernah hamil dan melahirkan cenderung tidak menyelesaikan SMA dan melanjutkan kuliah. Akhirnya, partisipasi remaja perempuan dalam angkatan kerja dan kegiatan ekonomi pun rendah.

Berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia untuk Remaja (SDKI Remaja) 2017, tingkat kehamilan tak diinginkan pada perempuan usia 15-19 tahun mencapai 16,4 persen dan usia 20-24 tahun mencapai 8 persen. Hal ini salah satunya disebabkan oleh minimnya pengetahuan tentang risiko kehamilan yang dimiliki remaja perempuan dan laki-laki.