Bahaya Malas Gerak di Tengah Pandemi

Gaya hidup sedentary (tidak bergerak dalam waktu lama) berpotensi menimbulkan penyakit, seperti diabetes, sakit jantung, atau hipertensi.
Andrea Lidwina
22 Mei 2020, 11:04

Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) membuat aktivitas fisik masyarakat berkurang. Hal ini dapat berdampak negatif terhadap kesehatan tubuh lantaran durasi duduk atau diam menjadi lebih lama. (Baca: E-Commerce Tumbuh di Tengah Pandemi Covid-19)

Apalagi selama PSBB, masyarakat dimudahkan melakukan aktivitas melalui perangkat digital. Misalnya melakukan konferensi video, menonton, dan gim online. Selain itu juga lebih sering menggunakan jasa pesan-antar bahan pangan dan makanan.

(Baca: AsalUsul Virus Corona ke Indonesia)

Namun kebiasaan tersebut bisa berkembang menjadi gaya hidup sedentary (tidak bergerak dalam waktu lama), yang mengakibatkan penyakit. Mulai dari sirkulasi aliran darah berkurang, kadar gula dan asam lemak meningkat, hingga menyebabkan diabetes, sakit jantung, atau hipertensi.

(Baca: Pandemi Tak Terprediksi, Pemerintah Dorong Masyarakat Tetap Produktif)

Karena itu, masyarakat tetap perlu melakukan latihan fisik selama di rumah, terutama fokus pada penguatan dan peregangan otot serta keseimbangan. Beberapa latihan yang bisa dilakukan adalah jalan kaki dari rumah ke pasar atau warung, membawa atau mengangkat sendiri barang yang dibeli, memberi jeda pada waktu duduk setiap 20 menit, dan mengikuti latihan dari video di platform digital.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.