Rumitnya Vaksinasi Covid-19 di Indonesia

Vaksinasi tenaga kesehatan menemui terkendala karena belum semua tenaga kesehatan terdaftar. Selain itu, banyak yang memiliki penyakit penyerta.
Andrea Lidwina
Oleh Andrea Lidwina
3 Februari 2021, 10:22

Pemerintah menargetkan program vaksinasi Covid-19 dapat menyasar 181,5 juta penduduk. Program ini diperkirakan selesai pada Maret 2022. Dalam jangka pendek, pemerintah dapat memvaksinasi 1,5 juta tenaga kesehatan sampai akhir Februari ini. (Analisis Data: Mengukur Efikasi vs Efektivitas Vaksin Covid-19)

Namun, data Kementerian Kesehatan menunjukkan realisasi vaksinasi baru sebesar 42,3% dari target hingga Rabu (2/2), atau 20 hari sejak vaksinasi dimulai. Rinciannya, sebanyak 596,3 ribu orang telah mendapatkan dosis pertama dan 52 ribu orang sudah disuntikkan dosis kedua. (Infografik: Bagaimana Vaksin Bekerja?)

Vaksinasi Covid-19 di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Distribusi akan lebih panjang karena wilayah Indonesia luas dan ada beberapa daerah terpencil. Ketersediaan rantai dingin (cold chain), untuk menyimpan dan menjaga kualitas vaksin, juga belum mencukupi.

Pemberian vaksin bagi tenaga kesehatan pun menemui kendala. Penyebabnya, belum semua tenaga kesehatan terdaftar pada tahap awal ini. Ada pula tenaga kesehatan yang punya penyakit penyerta, seperti darah tinggi, sehingga belum bisa menerima suntikan vaksin saat ini. (Analisis Data: Keraguan Masyarakat Menyambut Vaksinasi Covid-19)

Selain itu, berdasarkan hasil survei Kementerian Kesehatan pada Oktober 2020, hanya 65% masyarakat yang setuju divaksin. Sisanya belum menentukan, bahkan menolak. Padahal, partisipasi masyarakat dalam vaksinasi sangat menentukan terbentuknya kekebalan kelompok (herd immunity) terhadap virus corona di Indonesia.

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan