Terpuruk Setelah 1998, tapi Bukan yang Terburuk

“Ini adalah pertama kalinya ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sejak krisis 1998," ujar Kepala BPS Suhariyanto.
Dimas Jarot Bayu
Oleh Dimas Jarot Bayu
10 Februari 2021, 17:06

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 sebesar -2,07% (yoy). Kontraksi ekonomi tersebut terjadi karena krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19.

“Ini adalah pertama kalinya ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sejak krisis 1998," ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers, Jumat (5/2). (Analisis Data: Ekonomi Dunia Menanggung Beban Covid-19)

Suhariyanto mengatakan, seluruh komponen pengeluaran yang membentuk produk domestik bruto (PDB) pada tahun lalu terkontraksi, kecuali konsumsi pemerintah. Secara rinci, konsumsi rumah tangga tumbuh -2,63%, konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) -4,29%,.

Kemudian, pembentukan modal tetap bruto/investasi -2,95%, ekspor -7,7%, dan impor -14,71%. Adapun, konsumsi pemerintah mengalami pertumbuhan sebesar 1,94%. (Analisis Data: Simalakama Mitigasi Covid-19, Kesehatan atau Ekonomi?)

Indonesia tak sendirian mengalami kontraksi ekonomi. Sejumlah negara lain, khususnya di G-20, mengalami hal serupa sepanjang 2020. Sebagai contoh, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat pada tahun lalu tercatat -3,5%, Rusia -3,1%, Korea Selatan -1%, Uni Eropa -6,4%.

Kemudian, pertumbuhan ekonomi Jerman pada tahun lalu sebesar -5%, Prancis -8,3%, Meksiko -8,5%, dan italia -8,8%. Hanya Tiongkok yang ekonominya tumbuh 2,3% pada 2020.