Kontroversi Ivermectin yang dapat Mempengaruhi Kualitas Sperma

Sejumlah penelitian menunjukkan ada efek samping penggunaan obat Ivermectin terhadap manusia.
Image title
14 September 2021, 09:28

Penggunaan Ivermectin untuk pasien Covid-19 masih menuai kontroversi. Sejumlah studi menunjukkan ada pengaruh obat tersebut terhadap kualitas sperma laki-laki.

Studi yang dilakukan oleh Universitas Ambrose Alli, Nigeria terhadap 37 pria berusia 28-57 tahun pada 2011 menemukan adanya penurunan kualitas sperma setelah mengonsumsi obat Ivermectin. Tercatat, jumlah sperma turun sebesar 19% dari 109,8 juta/ml sebelum mengonsumsi Ivermection menjadi 89,1 juta/ml setelah mengonsumsi Ivermectin.

Demikian pula dengan motalitas atau kemampuan sperma berenang menuju sel telur yang berkurang 42%. Persentase sperma abnormal juga bertambah sebesar 120%, dari 25% sebelum konsumsi Ivermectin menjadi 55,1% setelah konsumsi Ivermectin.

Studi lain yang juga menunjukkan Ivermectin dapat mempengaruhi kualitas sperma adalah studi di Universitas Alexandria, Mesir pada 2017. Dalam penelitiannya terhadap tikus jantan, terjadi penurunan kadar testoteron sebanyak 27% dan penurunan jumlah sperma 42%. Kemudian motalitas sperma berkurang 25%, jumlah sperma hidup berkurang 7%, dan jumlah sperma abnormal bertambah 65%.

Walaupun begitu, Food and Drug Administration (FDA) atau badan pengawas obat-obatan dan makanan Amerika Serikat menyatakan bahwa infertilitas bukanlah efek samping dari konsumsi Ivermectin. Studi Ivermectin di Nigeria juga dinilai masih ada keterbatasan karena kurangnya pengukuran untuk hasil yang lebih signifikan.

Dilansir dari mayoclinic.org, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kualitas sperma. Faktor-faktor tersebut berasal dari medis, lingkungan, serta gaya hidup. Faktor yang berasal dari medis antara lain varikokel (pembengkakak skrotum), masalah ejakulasi, hormon yang tidak seimbang, dan cacat kromosom karena kelainan bawaan dari lahir.

Faktor yang berasal dari lingkungan yakni terpapar bahan kimia industri seperti pestisida yang terlalu lama, terpapar logam berat, dan terpapar radiasi yang tinggi dari X-ray. Sementara faktor yang berasal gaya hidup antara lain penggunaan obat-obatan tertentu seperti obat perangsang pertumbuhan otot, pengguanaan kokan/ganja, merokok, obesitas, duduk yang terlalu lama, dan berpakaian yang terlalu ketat. 

Untuk mencegah penurunan kualitas sperma, beberapa hal yang dapat dilakukan yaitu tidak merokok, batasi atau hindari alkohol, jauhi obat-obatan terlarang, pertahankan berat badan yang ideal, tidak melakukan vasektomi, kurangi stress, serta hindari pakaian yang terlalu ketat. 

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.