Akhir Era Suku Bunga BI Rendah?

Bank Indonesia berpotensi untuk menaikkan suku bunga karena kebijakan moneter harus mengantisipasi kondisi di masa yang akan datang.
Reza Pahlevi
7 Juli 2022, 14:10

Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan (BI 7-Day Reverse Repo Rate) yang bertahan di posisi 3,5% sejak Februari 2021. Kenaikan suku bunga tersebut didorong oleh tingkat inflasi dan perkembangan situasi perekonomian global. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju inflasi tahunan (YoY) sebesar 4,35% pada Juni 2022. Tingkat inflasi ini sudah di atas proyeksi BI sebesar 2%-4%. 

Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya mengatakan, ekonomi global sedang diwarnai ketidakpastian akibat peningkatan risiko stagflasi. Hal ini seiring kenaikan suku bunga global dan makin luasnya kebijakan proteksionisme oleh berbagai negara.

Menurutnya, BI akan terus mencermati kondisi perekonomian, merumuskan, dan melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan stabilitas makroekonomi dan keuangan.

“Termasuk penyesuaian lebih lanjut stance kebijakan bila diperlukan,” kata Perry dalam keterangan tertulis, Senin 4 Juli 2022.

Bank sentral pun akan terus melakukan kerja sama kebijakan dengan pemerintah dalam rangka mendukung percepatan pemulihan ekonomi. Dalam asesmen pemerintah, ekonomi Indonesia akan tumbuh di rentang 4,8%-5,5% pada tahun ini, lebih besar dari tahun lalu di 3,7%.

Meski inflasi umum naik, inflasi inti masih di bawah titik tengah target BI yang sebesar 3%. Laporan BPS terbaru menunjukkan inflasi inti tahunan tercatat sebesar 2,63%.

Meski begitu, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual melihat BI bakal mengerek bunga pada pertemuan bulan ini sekalipun inflasi inti belum naik signifikan. Dia meramal suku bunga acuan naik 25 bps menjadi 3,75% bulan ini.

“Biasanya kebijakan moneter itu forward looking, bukan melihat kondisi sekarang, tapi bagaimana 6-12 bulan ke depan,” kata dia kepada Katadata.co.id, Selasa 5 Juli 2022.

Dia memperkirakan, inflasi inti akan menyentuh level 3% bulan depan. Kenaikan diramal berlanjut karena sejumlah faktor.  Permintaan agregat terus menguat, kredit juga diperkirakan tumbuh hingga dua digit pada tahun ini. 

Di samping itu, kenaikan inflasi headline yang saat ini mencapai 4,35% juga bisa mempengaruhi komponen inti. Selama harga pangan dan energi masih tinggi, maka inflasi inti juga berisiko terus menanjak.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.