Hemat Duit Pakai Motor Listrik

Ongkos berkendara dengan motor bensin semakin tidak kompetitif dibandingkan dengan motor listrik sejak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Dzulfiqar Fathur Rahman
7 September 2022, 12:03

Motor listrik terlihat lebih memikat di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Meskipun harganya lebih mahal, pengendara bisa menghemat pengeluaran seiring harga listrik yang lebih terjangkau.

Ongkos menggunakan motor berbahan bakar fosil diperkirakan bisa 2,3 kali lebih mahal dari motor listrik

Sebagai ilustrasi seorang pengemudi menempuh perjalanan 20 kilometer (km)—ini setara dengan jarak tempuh dari Jl. Raya Kalimalang di pinggir Jakarta Timur ke Jl. Palmerah Barat di Jakarta Pusat.

Dengan motor Honda Beat yang terbaru, pengendara ini akan membutuhkan 0,33 liter bensin. Perjalanan ini akan menghabiskan kira-kira Rp3.300 untuk membeli bensin Pertalite, mengingat harganya saat ini sebesar Rp10.000 per liter.

Sementara itu, menggunakan motor Gesits untuk perjalanan yang sama diperkirakan akan mengonsumsi 0,57 kilowatt jam (kWh). Ini setara dengan Rp1.420 untuk mengisi ulang baterainya di stasiun pengisian yang dikelola oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN).

(Baca: Boros Mana Mobil Listrik Vs BBM?)

Ongkos transportasi dengan kendaraan berbahan bakar fosil telah menjadi jauh lebih mahal dengan tarif yang baru. Harga Pertalite naik 30,71% ke Rp10.000 per liter, harga Solar naik 32,03% ke Rp6.800 per liter dan harga Pertamax naik 16% ke Rp14.500 per liter.

Tren pencarian untuk “motor listrik” di Google menunjukkan peningkatan dalam beberapa hari hingga 1 September. Pencarian teratas terkait kata kunci ini adalah “harga motor listrik”.

Meskipun lebih hemat dari segi konsumsi energi, harga motor listrik masih lebih mahal dari motor bensin. Harga motor Gesits, misalnya, tembus Rp28 juta di pasar. Di sisi lain, harga motor seperti Honda Beat dan Yamaha Mio berkisar di bawah Rp20 juta.

Pemerintah Indonesia memiliki rencana ambisius untuk mendorong produksi 2,45 juta motor elektrik per 2030, berdasarkan pangkalan data Badan Energi Internasional (IEA). Dari sisi infrastruktur, pemerintah juga telah menargetkan agar terdapat 30.000 stasiun pengisian daya dan 67.000 stasiun penggantian baterai per 2030.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.