Disiplin Wisatawan Terapkan Protokol Kesehatan Masih Rendah

Padahal, penelitian mengungkapkan mobilitas tinggi selama liburan dapat meningkatkan kasus baru Covid-19
Image title
Oleh Melati Kristina Andriarsi - Tim Riset dan Publikasi
31 Oktober 2020, 18:56
Sejumlah wisatawan berkunjung ke kawasan Malioboro di Yogyakarta, Jumat (30/10/2020). Pada libur nasional dan cuti bersama pekan ini, wisatawan dari berbagai daerah mulai memadati kawasan Malioboro sejak Kamis (29/10).
ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/wsj.

Liburan hari raya Maulid Nabi yang diikuti dengan cuti bersama mendorong masyarakat untuk berwisata di tengah pandemi. Pakar Satgas Covid-19 bidang perubahan perilaku, Turro Wongkaren menjelaskan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang menyebabkan kejenuhan selama pandemi berdampak pada kondisi psikologis masyarakat.

“Munculnya cabin fever selama masa karantina di tengah pandemi juga turut mendorong masyarakat untuk akhirnya pergi ke luar rumah dan berwisata,” ujar Turro dalam siaran youtube BNPB berjudul Masyarakat Abai Protokol Kesehatan, Liburan Jadi Bencana, Sabtu (31/10).

Namun, sayangnya, selama liburan longweekend kali ini, masih minim kesadaran wisatawan dalam menerapkan protokol kesehatan. Hal itu, diungkapkan oleh Koordinator Lapangan Tamansari Yogyakarta, Ridwan Syam. Ia memaparkan bahwa masih ada beberapa orang yang tidak bermasker atau ditenteng maupun disimpan di dalam saku. Para wisatawan harus selalu diingatkan untuk memakai masker.

“Kami lebih memilih petugas untuk mengingatkan wisatawan mengenai protokol kesehatan, sebab peraturan yang sudah dipasang terkadang tidak dipatuhi,” ujar Ridwan kepada Kompas, Jumat (30/10).

Padahal Kepala Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, dr. Dwi Agustian mengungkapkan bahwa mobilitas yang tinggi selama liburan dapat meningkatkan kasus baru. “Penelitian di Inggris menghitung setiap kenaikan 1 persen pergerakan populasi dapat meningkatkan kasus baru hingga 1,5 persen.”

Baik dr. Dwi Agustian dan Turo Wongkaren telah mengimbau masyarakat untuk jangan melupakan protokol kesehatan 3M yaitu mencuci tangan, menjaga jarak, dan memakai masker di tempat wisata. Meski sudah banyak imbauan dari pemerintah dan pakar kesehatan, sebagian masyarakat masih belum disiplin dalam menerapkan gerakan 3M khususnya di tempat wisata.

Bertepatan dengan hari libur pada Kamis 29 Oktober lalu, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Yogyakarta, Berty Murtiningsih mengumumkan rekor baru kasus penularan Covid-19 di Yogyarakarta. Ia mengatakan hasil laboratorium dari terkonfirmasi positif di tanggal tersebut mendapat 82 kasus positif. “Hingga kini, total kasus positif Covid-19 di Yogyarakta sebanyak 3.744 kasus,” kata Berty mengutip Tempo.

Banyaknya wisatawan dari berbagai daerah yang datang ke Yogyarakarta selama masa liburan dan cuti bersama pekan ini berpotensi menambah kasus Covid-19. Adapun Dinas Pariwisata Yogyakarta memaparkan lebih dari 1 juta orang berkunjung ke kota tersebut selama bulan Juli hingga pekan ketiga Oktober 2020.

Pemerintah setempat telah menyusun berbagai standar operasional prosedur dengan simulasi serta verifikasi pelaku usaha wisata melalui kabupaten dan kota se-Yogyakarta. Adapun aplikasi Visiting Jogja juga dikembangkan guna menyajikan data kunjungan wisatawan secara realtime.

Kepala Dinas Pariwisata Yogyakarta, Singgih Raharjo selalu mengingatkan seluruh masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan termasuk wisatawan dan pengelola destinasi wisata. Dibutuhkan kerjasama antara pemerintah dan kedisiplinan masyarakat dalam mempraktikkan protokol kesehatan guna menekan angka penularan Covid-19.

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

Video Pilihan

Artikel Terkait