Bertahan Hadapi Pandemic Fatigue Demi Menekan Penularan Covid-19

Di beberapa negara, termasuk Indonesia, pandemic fatigue memicu meningkatnya jumlah orang yang mengabaikan pembatasan sosial dan protokol kesehatan
Image title
Oleh Alfons Yoshio - Tim Riset dan Publikasi
21 November 2020, 14:16
SKRINING TUBERKULOSIS DI GARUT
ANTARA FOTO/Candra Yanuarsyah/agr/aww.

Mengendurnya disiplin masyarakat dalam penerapan protokol kesehatan berpotensi memacu kembali tingkat penularan Covid-19. Celakanya fenomena ini mulai ditemukan di masyarakat. Salah satu penyebabnya adalah rasa lelah akibat tidak adanya kepastian kapan berakhirnya pandemi ini.

World Health Organization (WHO) mendeskripsikan rasa lelah itu sebagai pandemic fatigue, demotivasi yang dirasakan masyarakat dalam mengikuti rekomendasi protokol kesehatan yang dimaksudkan untuk melindungi diri sendiri dan orang lain dari virus.

Di beberapa negara pandemic fatigue menjadi pemicu meningkatnya jumlah orang yang mengabaikan pembatasan sosial dan protokol kesehatan yang berlaku. Fenomena ini juga mulai terjadi di Indonesia dan menjadi sangat berbahaya, mengingat penambahan kasus masih terus terjadi di Tanah AIr.

"Kalau ditarik ke awal --Maret, April, masyarakat Indonesia kan masih disiplin porotkol kesehatan dan masih pada semangat. Berkembang ke sini kasus makin bertambah tidak diimbangi dengan kepatuhan yang sama di awal. Padahal kalau lihat data, kita gelombang pertama pun belum dilewati," kata Firdza Radiany, Inisiator @PandemicTalks, platform informasi dan data Covid-19 Indonesia dari spektrum sains, kesehatan dan sosial.



Lebih lanjut, Pandemic Talks melihat fase pandemic fatigue ini kian nyata semenjak libur long weekend pada penghujung Oktober lalu. "Masyarakat yang disiplin di rumah saja mulai goyah kan, pemikiran seperti, ‘ini kok yang liburan pada sehat-sehat saja sih?’ mulai muncul," ucapnya lagi.

Menurut Firdza pandemic fatigue erat kaitannya dengan bias kognitif. Ini adalah kondisi kesalahan sistematis berpikir yang memengaruhi pengambilan keputusan dan penilaian yang mendorong tindakan irasional. Kaitan keduanya dapat mendorong orang untuk berpikir praktis terhadap virus corona dan mengambil keputusan instan yang dirasa dapat memberi kesenangan sesaat, meski berisiko.

Bahaya dari pandemic fatigue adalah munculnya pemahaman kalau Covid-19 bukanlah penyakit yang berbahaya dan menjadi kecenderungan untuk meremehkan. "Ini seperti kita mau diet atau olahraga, awalnya semangat terus ada fase pemikiran, "kok orang lain bisa cepet turun berat badanya ya, kok dia olahraga tapi tetap banyak makan, bisa kurus ya?" Pemikiran seperti itu itu bisa membuat bias, kemudian lelah," ujar Firdza memberi penjelasan ketika dihubungi  tim riset Katadata, Jumat (20/11).

"Fase yang lebih bahaya, ya karena lelah jadi tidak disiplin, kemudian timbul ‘keberanian untuk melanggar’ dan itu menimbulkan ilusi kenyaman palsu yang lama tambah besar hingga punya keberanian untuk melanggarnya,”  katanya.

Fenomena ini akan semakin berbahaya ketika semakin banyak orang yang punya pola pikir demikian. Apalagi adanya sosial media membuat terjadinya bandwagon effect alias efek ikut-ikutan makin teramplifikasi.



Bertahan dalam fase pandemic fatigue


Dalam upaya untuk menghadapi situasi kelelahan akibat pandemi, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menyadari kondisi diri. Sehingga bisa berpikir jernih dan tidak langsung berpikir untuk melanggar protokol kesehatan. "Ibaratnya kalau lagi diet, kan kita jadi bisa mengambil tindakan untuk tidak makan manis dulu," ujar Firdza memberi contoh.

Kesadaran ini penting untuk memacu agar kita tidak terburu-buru dalam berpikir dan mengambil tindakan. Penilitan dari National University of Singapore menyarankan untuk menerapkan berpikir pelan.

Pola berpikir seperti ini diaplikasinan dengan mempertimbangkan dengan seksama kelebihan dan kekurangan dari aktivitas yang akan dilakukan. "Berpikir secara berhati-hati ini memberi kita kesempatan mempertimbangkan masalah lebih matang, seperti implikasi jangka panjang," bunyi salah satu saran dari temuan itu dikutip dari The Conversation.

Selain berpikir dengan matang, kita juga harus mengolah informasi yang masuk dengan komprehensif. "Jangan cherry picking informasi," ucap Firdza. Hindari pilah-pilah informasi yang hanya sesuai keinginan kita. Hal ini akan bermafaat dalam pengambilan keputusan.



Kemudian terkait interaksi dengan pihak luar, Pandemic Talks menyarankan untuk membatasi pertemuan atau interaksi fisik dengan orang lain. Batasi hanya dengan dua lingkaran sosial saja, misal keluarga dan rekan kerja. Sehingga aktivitas dengan komunitas lain di luar komunitas itu bisa diurungkan dulu.

Hal ini akan menjadi tantangan yang cukup berat mengingat akan muncul "godaan" seperti stigma dari lingkaran sosial. "Pasti akan ada stigma seperti, ‘ah ga asik,’ dan sebagainya kalau nolak ajakan nongkrong. Tapi yang penting pendirian kita teguh saja dan tegaskan tujuan kita menjaga keluarga dan orang di rumah kan," ujar Firdza.

Terakhir, pesan Firdza adalah untuk tetap menjalankan protokol kesehatan. Gerakan 3M yang terdiri dari memakai masker, manjaga jarak dan menghindari kerumunan, serta mencuci tangan sesering mungkin dengan sabun dan air mengalir terbukti efektif menekan angka penularan Covid-19.

Jika sangat diperlukan dan dilakukan dengan tanggung jawab, melakukan pertemuan kecil dengan lingkaran sosial masih mungkin dilakukan. Namun, yang perlu diingat sosialisasi dalam kelompok tetap memunculkan risiko meski sudah diminimlaisir.

"Lelah dan bosan itu wajar saat pandemi. Tapi jangan lengah. Tetap semangat bertahan saat pandemi," kata Firdza berpesan mewakili Pandemic Talks menutup perbincangan.

Poster_Kampanye3M_Pandemic Fatigue
Poster_Kampanye3M_Pandemic Fatigue (Katadata)



Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

Video Pilihan

Artikel Terkait