Waspada Reinfeksi Covid-19 di Indonesia

Meski belum terjadi, Indonesia perlu mengantisipasi reinfeksi virus Corona sebelum terjadi.
Image title
Oleh Hanna Farah Vania - Tim Riset dan Publikasi
22 November 2020, 13:46
HEALTH-CORONAVIRUS/USA-TEXAS
ANTARA FOTO/REUTERS/Callaghan O'Hare/WSJ/cf

Meski sudah berlangsung sejak awal tahun 2020, pandemi Covid-19 belum berakhir. Bahkan belakangan muncul kejadian reinfeksi Covid-19 yang dilaporkan terjadi di sejumlah negara. Salah satunya dialami oleh pasien berusia 25 tahun di Nevada, Amerika Serikat.

Walaupun belum terdapat kasus di Indonesia, adanya fenomena reinfeksi virus Corona perlu dicermati dengan baik. Berdasarkan pengumpulan informasi Pandemic Talks, akun Instagram yang mengompilasi dan menyajikan data resmi soal pandemi, reinfeksi merupakan infeksi oleh agen infeksius yang sama untuk kedua kalinya setelah seseorang sembuh dari infeksi pertama.

Namun, hingga saat ini belum terdapat kriteria pasti akan reinfeksi Covid-19. Perlu diketahui, bahwa susunan materi genetik virus pada infeksi kedua akan berbeda dengan yang sebelumnya terjadi. Melansir dari Media Indonesia, Dokter spesialis penyakit dalam dari Omni Hospital Pulomas Dirga Sakti Rambe, susunan ini dapat dilihat dengan analisis genom (whole genome sequencing) dari virus.

“Harus melalui uji sequencing genomik dan di Indonesia masih terbatas,” ujarnya.

Diduga terdapat beberapa penyebab adanya reinfeksi. Pertama, perlindungan antibodi pada orang yang terinfeksi tidak bertahan lama. Kedua, reinfeksi juga dapat disebabkan oleh pasien yang kembali terinfeksi namun dengan strain virus yang berbeda akibat adanya mutasi virus.

Perlu juga membedakan dengan reaktivasi, yaitu kembali munculnya penyakit atau infeksi setelah jeda waktu tanpa gejala dari penyakit tersebut. Masih dari Pandemic Talks, terdapat 24 kasus reinfeksi di seluruh dunia dengan 1 kasus meninggal hingga 3 November 2020. Indonesia sendiri belum melakukan analisis genom. Oleh karenanya, kasusnya sampai saat ini masih dianggap terduga reinfeksi.

Berdasarkan pengalaman pasien, infeksi kedua memiliki gejala yang bervariasi. Ada yang mengalami tanpa gejala, hingga gejala berat. Bahkan sampai ada yang merenggut nyawa. Rata-rata interval sejak kesembuhan infeksi pertama memakan waktu 74 hari hingga munculnya gejala reinfeksi.

 Vaksin dan Upaya Pencegahan

Pandemic Talks memaparkan bahwa dengan adanya reinfeksi, masyarakat tidak dapat bergantung pada imunitas alami untuk mencapai herd immunity. Namun, terdapat bukti ilmiah bahwa sejauh ini vaksin yang sedang dikembangkan juga dapat memberikan perlindungan terhadap fenomena reinfeksi. Meski adanya reinfeksi tidak mempengaruhi pengembangan vaksin yang saat ini sedang berjalan.

Melihat fenomena ini, pemerintah baik pusat maupun daerah perlu melakukan tindakan mitigasi dan pencegahan. Upaya-upayanya adalah dengan meningkatkan pengawasan ketat di fasilitas kesehatan, melakukan sekuensi genom dengan benar agar dapat melakukan pendeteksian dini, meningkatkan kapasitas dan fasilitas laboratorium di berbagai daerah, melakukan pemetaan dan analisis epidemiologis dan biomolekuler dari kasus reinfeksi, dan menjalankan 3T (testing, tracing, dan tracking) secara konsisten dan dalam skala besar.

Bagi penyintas Covid-19, perlu memiliki pola pikir akan adanya kemungkinan terinfeksi kembali. Oleh karenanya, penerapan 3M dengan selalu mencuci tangan selama 30 detik, memakai masker, dan menjaga jarak juga menghindari kerumunan perlu dilakukan. Tak luput juga selalu memperhatikan protokol VDJ (ventilasi, durasi, dan jarak) yaitu dengan menghindari tempat dengan sirkulasi udara yang buruk pada waktu yang lama dan jarak yang berdekatan dengan satu sama lain.

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

Video Pilihan

Artikel Terkait