Gerakan 3M dan 3T Perlu Didukung Perubahan Perilaku Masyarakat

Selain mengkampanyekan gerakan 3M, memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak, pemerintah juga melakukan sosialisasi 3T (testing, tracing, dan treatment).
Image title
Oleh Melati Kristina Andriarsi - Tim Riset dan Publikasi
28 November 2020, 13:13
Petugas puskesmas menempelkan poster imbauan memakai masker saat sosialisasi gerakan 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak) di kawasan pemukiman warga Tanah Sareal , Kota Bogor, Jawa Barat, Kamis (1/10/2020). Sosialisasi gerakan 3M di kawa
ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/nz.

Selain mengkampanyekan gerakan 3M, memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak, pemerintah juga melakukan sosialisasi 3T (testing, tracing, dan treatment). Menurut Kepala Sub Bidang Tracking Satgas Covid-19, dr. Kusmedi Priharto, bila diterapkan dengan baik 3T dapat memutus tali rantai penularan dan mencegah risiko tertular hingga 100 persen.

Ia juga menyebutkan bahwa tracing dapat membantu menemukan pasien dengan gejala ringan sehingga bisa lebih cepat ditangani dan mudah diobati. “Pasien dengan gejala ringan angka kesembuhannya bisa diatas 80 persen, sedangkan pasien yang sudah masuk ICU angka kesembuhannya hanya 5 persen,” kata dr. Kusmedi dalam talkshow berjudul ‘Berburu Zona Hijau: Testing, Tracing, Treatment’ yang diunggah di YouTube BNPB, Rabu (18/11).

Terlebih, angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia per 2 November lalu telah mencapai 13,9 ribu jiwa dimana angka tersebut tertinggi ke-16 di dunia. Sementara untuk melaksanakan tracing, sebanyak 7.000 petugas tracker telah dikerahkan. Selain itu, ketua RT, RW, hingga kader juga ditugaskan sebagai informan untuk proses tracing. Tak hanya tracing, testing juga digalakkan pemerintah guna mengetahui lebih cepat penularan Covid-19. 

Saat ini, target untuk testing adalah 1 orang diperiksa per 1.000 penduduk, namun angka testing di Indonesia masih rendah sebab banyak orang yang enggan melakukannya. “tracing bukan hal yang menakutkan, karena dapat menolong orang lain terlepas dari gejala berat ketika ditemukan positif Covid-19,” imbuhnya.

Di kesempatan yang sama, Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19 Sonny Harry Harmadi, menjelaskan bahwa testing dan tracing terkendala kekhawatiran seseorang bila positif Covid-19 akan mendapat stigma negatif di masyarakat. Guna menekan kendala tersebut, Satgas Penanganan Covid-19 Bidang Perubahan Perilaku sedang menyusun panduan kesehatan mental agar masyarakat bisa berpartisipasi dalam upaya 3T.

Lebih lanjut, saat ini sebanyak 7,8 juta masyarakat telah diedukasi oleh duta perubahan perilaku mengenai 3T dan 3M, namun masih ada 50.000 orang yang menolak edukasi tersebut. “Kami terus berupaya memperkuat edukasi perubahan perilaku khususnya di provinsi dengan tingkat penolakan dari masyarakatnya tinggi yaitu di Yogyakarta, Papua, dan Jambi,” ujar Sonny, Rabu (18/11).

Adapun guna menjangkau masyarakat luas, satgas Covid-19 bagian perubahan perilaku juga menghadirkan video edukasi 3M dan 3T dalam 75 bahasa daerah. “Saat ini kepatuhan masyarakat menerapkan 3M sudah cukup baik, namun perlu konsistensi dan disiplin dalam mempratikkan perilaku tersebut,” kata Sonny.

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

Video Pilihan

Artikel Terkait