Puluhan Klien Agen Perjalanan Batalkan Rencana Wisata

Mobilitas yang dilakukan masyarakat di tengah pandemi sangat berisiko dan membahayakan, sebab tidak ada yang tahu dari mana Covid-19 berasal
Image title
Oleh Dini Hariyanti - Tim Riset dan Publikasi
24 Desember 2020, 06:00
FUN PADDLE UNTUK PEMULIHAN PARIWISATA BALI
ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/wsj.

Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) menyebutkan, tes kesehatan rapid antigen berpengaruh terhadap rencana berlibur masyarakat. Banyaknya antrean untuk melakukan rapid test antigen membuat sebagian orang membatalkan perjalanan.

“Karena harus ada tes kesehatan rapid yang antigen, sejumlah orang membatalkan perjalanannya. Gambarannya, dari 120 peserta perjalanan pada sebuah travel agent, sekitar 30 orang membatalkan perjalanan,” ucap Nunung kepada Katadata, Rabu (23/12/2020).

Pada akhir pekan lalu, Satgas Penanganan Covid-19 mengeluarkan surat edaran yang mengatur protokol kesehatan selama libur Natal dan Tahun Baru. Persyaratan pelesir akhir tahun menjadi lebih ketat, salah satunya dengan pewajiban tes antigen.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiko Adisasmito mengatakan, ketentuan tersebut merupakan bagian upaya menanggulangi potensi penularan virus corona. Pengalaman dari liburan sebelumnya, selalu diikuti oleh peningkatan jumlah kasus di berbagai wilayah Indonesia.

“Mobilitas warga memicu peningkatan kasus penularan baru. Oleh karena itu, sudah seharusnya warga untuk lebih patuh dan disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan,” ujarnya.

Di dalam surat edaran terbaru, selain wajib patuh kepada 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan menggunakan sabun), Satgas Covid-19 juga menetapkan bahwa pelaku perjalanan harus melakukan tes kesehatan RT-PCR atau rapid test antigen, serta mengisi e-HAC Indonesia.

Lebih jauh Wiku mengutarakan, berkaca dari beberapa libur panjang, perlu berpikir dua kali sebelum melakukan perjalanan antarkota pada pengujung 2020 ini.  Pasalnya, momen libur panjang acap memicu peningkatan kasus aktif COVID-19 di Indonesia.

Mobilitas yang dilakukan masyarakat di tengah pandemi sangat berisiko dan membahayakan, sebab tidak ada yang tahu dari mana Covid-19 berasal. “Lonjakan kasus positif membawa dampak lanjutan, seperti berkurangnya jumlah tempat tidur di isolasi maupun ruang ICU,” kata Wiku.

Setelah kurang lebih 10 bulan menghadapi pandemi, pemerintah dan masyarakat bergotong-royong mengaplikasikan perilaku 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak) sebagai perisai penting dalam meminimalisir penularan Covid-19.

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

Video Pilihan

Artikel Terkait