Restoran hingga RPTRA Jadi Lokasi Abai Protokol Kesehatan

Ada lima lokasi yang memiliki tingkat ketidakpatuhan memakai masker juga menjaga jarak dan menjauhi kerumunan tertinggi.
Image title
Oleh Hanna Farah Vania - Tim Riset dan Publikasi
16 Januari 2021, 12:30
Pengunjung menikmati hidangan di salah satu restoran kawasan M Bloc Space, Blok M, Jakarta, Sabtu (19/12/2020). Menjelang libur Natal dan Tahun Baru 2021, Pemprov DKI melakukan pembatasan jam operasional restoran hingga pukul 19.00 WIB mulai 18 Desember 2
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/rwa

Indonesia hingga saat ini terus mengalami penambahan kasus positif Covid-19. Per 15 Januari, kasus bertambah hingga 12.818 kasus dengan jumlah kasus aktif 138.238 kasus atau persentasenya 15,7 persen. Penambahan kasus pada Jumat (15/1) merupakan angka dengan kasus tertinggi di Indonesia. Pada kasus meninggal mencapai 25.484 kasus dengan persentasenya 2,9 persen.

Berdasarkan data Sistem Monitoring Bersatu Lawan Covid (BLC), grafik persentase kepatuhan perubahan perilaku sejak minggu ketiga September hingga minggu keempat Desember terus menurun. Penurunan sebesar 28 persen terjadi pada kepatuhan memakai masker juga kepatuhan menjaga jarak dan menghindari kerumunan sebesar 20,6 persen. Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito berpendapat bahwa ini sangat membahayakan.

"Temuan minggu ini sangatlah berbahaya. Karena menggambarkan adanya sikap abai di tengah masyarakat atas pentingnya penerapan protokol kesehatan. Sikap abai ini bukan hanya semata-mata kesalahan masyarakat, tetapi juga bagian tidak berhasilnya penegakan dan pengawasan dari masing-masing pemerintah daerah," ujarnya.

Berdasarkan perhitungan data Satgas Covid-19 yang bertajuk “Monitoring Kepatuhan Protokol Kesehatan di 34 Provinsi Indonesia” (10/1), terdapat beberapa lokasi yang memiliki tingkat ketidakpatuhan menerapkan protokol kesehatan tertinggi, seperti tidak memakai masker juga menjaga jarak dan menjauhi kerumunan. Sejumlah lokasi tersebut adalah restoran atau kedai, rumah, tempat olah raga publik atau Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA), jalanan umum, dan tempat wisata.

 Restoran atau kedai

Terdapat 29,7 persen masyarakat tidak patuh memakai masker saat berada di restoran atau kedai. Sementara terdapat 16,5 persen yang tidak patuh menjaga jarak dan menghindari kerumunan. Ini terjadi karena ketika makan, para pelanggan restoran harus membuka masker. Tak hanya itu, kecenderungan untuk mengobrol setelah makan dengan tidak memakai masker juga tinggi.

Kawasan lingkungan rumah

Pada kawasan perumahan, 15,1 persen masyarakat tidak patuh menjaga jarak dan 22,5 persen tidak memakai masker. Masyarakat sering kali abai untuk tetap mematuhi protokol kesehatan di sekitar rumah ketika hanya berinteraksi dengan orang terdekat seperti tetangga dan keluarga. Namun, penularan justru dapat terjadi ketika lalai dan menyepelekan penyebaran virus, bahkan di sekitar rumah.

RPTRA

Pada lokasi ini, 15 persen masyarakat tidak menggunakan masker dan 14,2 persen tidak menjaga jarak. Aktivitas di luar rumah yang dilakukan dengan anak khususnya di lokasi RPTRA membuat orang tua sering kali luput untuk tetap mengawasi anak memakai masker dan menjaga jarak. Tempat olah raga publik juga jadi lokasi yang rawan karena kecenderungan interaksi langsung sangat besar terjadi.

Jalan umum dan tempat wisata

11,9 persen masyarakat yang berada di lokasi jalanan umum tidak menjaga jarak dan menghindari kerumunan. 14,5 persen juga tidak memakai masker. Sedangkan pada lokasi wisata, 9,1 persen dari pengunjung tidak memakai masker dan 11,2 persen masyarakat tidak menjaga jarak dan menghindari kerumunan. Pengunjung di tempat wisata sering kali mengabaikan protokol kesehatan karena melakukan aktivitas fisik dan berinteraksi secara langsung dengan keluarga, teman, atau bahkan pengunjung lainnya.

Ketidakpatuhan di lima lokasi ini akan berdampak negatif pada efektivitas penanganan Covid-19. Salah satunya adalah semakin melonjaknya keterisian rumah sakit yang akan menambah beban para tenaga kesehatan dan penanganan rumah sakit keseluruhan. Hal yang terburuk, angka kematian juga akan terus meningkat.

"Sistem kesehatan kita akan lumpuh. Apabila sistem kesehatan kita lumpuh, hal ini tidak hanya merugikan penderita Covid-19 semata. Namun juga masyarakat umum yang membutuhkan perawatan akibat penyakit lain selain Covid-19. Utamanya mereka yang membutuhkan pelayanan kesehatan yang esensial seperti penderita penyakit paru dan jantung," ucap Wiku.

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

Video Pilihan

Artikel Terkait