Setelah Vaksinasi Tak Lantas Kebal Covid-19

Perlu waktu bagi tubuh untuk membentuk antibodi dan proses vaksinasi dapat menjangkau lebih banyak orang. Sehingga protokol kesehatan penting dilaksanakan walau sudah vaksinasi.
Image title
Oleh Alfons Yoshio - Tim Riset dan Publikasi
17 Januari 2021, 09:46
Petugas medis menyiapkan Vaksin Sinovac yang akan disuntikan kepada penerima vaksin saat Vaksinasi COVID-19 tahap pertama di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bung Karno, Solo, Jawa Tengah, Kamis (14/1/2021). Kota Solo menerima 10.620 dosis vaksin Sinovac un
ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha./foc.

Indonesia memulai program vaksinasi Covid-19 pada Rabu 13 Januari lalu. Proses vaksinasi bisa dimulai setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan ( BPOM) menerbitkan izin penggunaan darurat untuk vaksin Sinovac pada 11 Januari 2021. Upaya ini diharapkan dapat menekan angka penularan virus Corona di Indonesia.

Presiden Joko Widodo bersama beberapa elemen masyarakat, baik pejabat, tokoh agama, petugas kesehatan, perwakilan pengusaha, perwakilan guru, artis, buruh hingga pedagang pasar menjadi pertama yang mendapat vaksinasi. Proses pemberian vaksin setelahnya dilanjutkan di seluruh daerah di Tanah Air.

Hal ini tentu menjadi kabar baik dalam upaya mengentaskan pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung selama kurang lebih 10 bulan di Indonesia.

Namun yang harus diingat masyarkat, setelah mendapat vaksin bukan berarti kebal terhadap Covid-19. Ketua Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) Prof Dr Sri Rezeki S Hadinegoro menjelaskan, perlu waktu bagi orang yang  divaksinasi untuk meningkatkan antibodi di dalam tubuh.

“Setelah kita disuntik dua kali, enggak langsung tinggi antibodinya. Paling tinggi 14 hari sampai 1 bulan baru maksimal antibodi,”katanya dalam konferensi pers daring yang diselenggarakan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) awal pekan lalu.

Oleh sebab itu,  menurut dia penting untuk tetap menerapkan protokol kesehatan setelah menerima vaksin sekalipun. Selain itu, dia mengingatkan juga kalau imunisasi baru efektif setelah vaksin tersebar luas. Oleh sebab itu dia juga mendorong tiap orang agar menerima vaksin begitu dapat kesempatan.

“Apalagi belum seluruhnya divaksin. Malah ada yang menolak segala. Maka belum aman. Makanya ayo bersama-sama kita divaksin, kebalkan imun kita,” ucap Sri lagi.

Senada dengan Sri, Dokter Spesialis Penyakit Dalam konsultasi alergi imunologi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Iris Rengganis menyarankan para penerima vaksin tetap menjalankan 3M; mencuci tangan dengan air mengalir, memakai masker, dan menjaga jarak serta menghindari kerumunan.

"Saat ini masih pandemi, belum semua orang divaksin. Herd Immunity belum 70 persen dan vaksin tidak ada yang 100 persen perlindungannya. Jadi tetap jaga protokol kesehatan hingga pandemi berakhir," katanya dikutip dari Antara.

Sementara itu Ahli Epidemiologi dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman berpendapat, vaksin sebaiknya dijadikan sebagai salah satu penunjang dalam upaya mencegah penularan Covid-19 di Indonesia.

"Jangan anggap vaksin sebagai solusi ajaib," ujarnya kepada Katadata. Dia juga mengingatkan mereka yang menerima suntikan vaksin Covid-19 juga sangat mungkin menularkan virus kepada yang lain.

Oleh sebab itu menurut dia, vaksinasi seharunya menjadi pelengkap bagi protokol kesehatan yang sudah ada sekarang. Selain 3M, testing, tracing, dan treatment (3T) juga perlu diperketat.

Menurutnya vaksin tidak bisa menggantikan tes, telusur, dan upaya perawatan atau isolasi mandiri. Vaksin justru harus beriringan dengan upaya tersebut sehingga jumlah kasus dan potensi kematian dapat ditekan.

Poster Satgas Vaksin


Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

Video Pilihan

Artikel Terkait