Lebih dari 4.000 Nakes di Jawa Barat Sudah Divaksinasi

Vaksinasi berlangsung lancar di tujuh wilayah Jabar. Ada 4.070 (nakes) yang sudah divaksin dalam tiga hari (pada 14-16 Januari 2021)
Image title
Oleh Doddy Rosadi - Tim Riset dan Publikasi
19 Januari 2021, 15:13
Vaksinator menyuntikan vaksin COVID-19 Sinovac ke dr. Ezra Oktaliansyah (kiri) di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Bandung, Jawa Barat, Kamis (14/1/2021). Kota Bandung, Bekasi, Bogor, Depok, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat menj
ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/foc.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang juga Ketua Komite Kebijakan Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Daerah Provinsi Jabar mengatakan, 4.070 tenaga kesehatan (nakes) sudah divaksinasi di Jabar. Total tersebut didapat dari pelaksanaan vaksinasi selama tiga hari di tujuh kabupaten/kota pada 14 hingga 16 Januari 2021.

Rincian tujuh daerah dan jumlah nakes yang sudah divaksin tersebut yaitu Kota Bandung (1.783 nakes), Kabupaten Bandung (42 nakes), Kota Bekasi (694 nakes), Kota Bogor (568 nakes), Kab. Bandung Barat (442 nakes), Kota Cimahi (420 nakes), dan Kota Depok (121 nakes).

Selain itu, terdapat 69 pejabat publik, tokoh agama, hingga tokoh masyarakat, dari tujuh daerah itu yang sudah divaksin pada pencanangan vaksinasi Covid-19 perdana di hari Kamis, 14 Januari 2021. Di antaranya Wakil Gubernur Jabar Uu Ruzhanul Ulum dan musisi asal Kota Bandung, Ariel NOAH.

"Vaksinasi berlangsung lancar di tujuh wilayah Jabar. Ada 4.070 (nakes) yang sudah divaksin dalam tiga hari (pada 14-16 Januari 2021)," ujar Ridwan Kamil dalam keterangan tertulis yang diterima Katadata, Senin (18/1).

Usai memimpin Rapat Koordinasi Komite Kebijakan Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Daerah Provinsi Jabar di Makodam III/Siliwangi, Kota Bandung, Ridwan Kamil juga menjelaskan bahwa terdapat sejumlah tokoh yang ditunda untuk divaksin karena tensi tubuh yang tinggi atau di atas 140/90 sehingga tidak lolos penapisan atau skrining awal.

 

"Dari 90 (tokoh) yang ditargetkan untuk divaksin, pada hari-H tidak semua bisa disuntik karena tekanan darahnya tinggi. Ada 21 orang yang ditunda, menunggu tensi turun minimal di 140," kata Kang Emil.

Terkait program vaksinasi oleh pemerintah pusat ini, Ridwan Kamil berujar, tidak ada penolakan di Jabar karena edukasi yang relatif baik. Meski begitu, ia berharap agar manajemen data penerima atau sasaran bisa disesuaikan kepada kesiapan masing-masing daerah.

"Yang datang untuk divaksin tidak 100 persen seperti yang ditargetkan (pemerintah pusat) via SMS. Ini yang akan kita sinkronisasi dengan pemerintah pusat agar Pemerintah Daerah Provinsi Jabar diberi kewenangan lebih besar untuk mengelola siapa-siapa yang divaksin atau tidak, supaya kami mudah melacak," tutur Kang Emil.

"Karena datanya ada di pemerintah pusat, (siapa) yang tidak datang, kami tidak tahu. Karena kami tidak tahu, kami tidak bisa memberikan pertolongan apakah (mereka) tidak ada transportasi atau tidak diberi tahu. Ini yang akan dibenahi sebelum manajemen vaksinasi kepada masyarakat umum di tahap selanjutnya," tambahnya.

Ridwan Kamil menegaskan, vaksinasi merupakan opsi paling memungkinkan untuk mencapai kekebalan kelompok atau herd immunity demi menghentikan pandemi global Covid-19 di Tanah Air.

"Untuk mencapai kekebalan masyarakat ada tiga pintu. Pertama, vaksinasi sehingga bisa imun. Kedua, mohon maaf yang terpapar, setelahnya kebal (menjadi imun). Ketiga, diam di rumah, tidak ke mana-mana, sampai kekebalan masyarakat hadir. Pilihan ketiga repot secara sosial, maka pilih pintu pertama divaksin agar bisa berkegiatan seperti biasa," ujarnya.

Indonesia memulai program vaksinasi Covid-19 sejak 13 Januari lalu. Proses vaksinasi bisa dimulai setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan ( POM) menerbitkan izin penggunaan darurat untuk vaksin Sinovac pada 11 Januari 2021.

Upaya ini diharapkan dapat menekan angka penularan virus Corona di Indonesia. Presiden Joko Widodo bersama beberapa elemen masyarakat, baik pejabat, tokoh agama, petugas kesehatan, perwakilan pengusaha, perwakilan guru, artis, buruh hingga pedagang pasar menjadi pertama yang mendapat vaksinasi. Proses pemberian vaksin setelahnya dilanjutkan di seluruh daerah di Tanah Air.

Hal ini tentu menjadi kabar baik dalam upaya mengentaskan pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung selama kurang lebih 10 bulan di Indonesia. Namun yang harus diingat masyarkat, setelah mendapat vaksin bukan berarti kebal terhadap Covid-19. Ketua Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) Prof Dr Sri Rezeki S Hadinegoro menjelaskan, perlu waktu bagi orang yang  divaksinasi untuk meningkatkan antibodi di dalam tubuh.

Oleh sebab itu,  menurut dia penting untuk tetap menerapkan protokol kesehatan setelah menerima vaksin sekalipun. Selain itu, dia mengingatkan juga kalau imunisasi baru efektif setelah vaksin tersebar luas. Oleh sebab itu dia juga mendorong tiap orang agar menerima vaksin begitu dapat kesempatan.

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait