WEF: Dunia Perlu Tatanan Sosial-Ekonomi Baru Pascapandemi

Sistem ekonomi dan sosial baru agar dapat meningkatkan daya tahan dalam merespon guncangan sosial
Image title
Oleh Dini Hariyanti - Tim Riset dan Publikasi
23 Januari 2021, 11:03
Sebuah logo terlihat di Pusat Kongress (Congress Center) menjelang pertemuan yang diselenggarakan setiap tahun World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Senin (20/1/2020).
ANTARA FOTO/REUTERS/Denis Balibouse

Pandemi Covid-19 dinilai berpeluang meningkatkan kesenjangan, dan dalam tiga hingga lima tahun ke depan berpotensi mengancam perekonomian. Bahkan, dalam lima sampai sepuluh tahun mendatang berisiko memperlemah stabilitas geopolitik.

Selama 15 tahun terakhir, Laporan Risiko Global dari Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) memperingatkan dunia tentang bahaya pandemi. Dan pada 2020, pandemi Covid-19 tidak hanya mengorbankan jutaan jiwa tetapi juga memperlebar kesenjangan kesehatan, ekonomi, dan digital.

Managing Director WEF Saadia Zahidi mengatakan, risiko pandemi global menjadi kenyataan sepanjang tahun lalu. Hal ini sebetulnya sudah disorot di dalam Laporan Risiko Global sejak 2006. Dia mengakui, memang sulit bagi pemerintah, bisnis, dan pemangku kepentingan lain untuk mengatasi risiko jangka panjang akibat Covid-19.

“Ketika pemerintah, bisnis, dan masyarakat keluar dari pandemi, mereka harus segera membentuk sistem ekonomi dan sosial baru yang meningkatkan daya tahan dan kapasitas kolektif kita untuk merespon guncangan sosial. Sekaligus untuk menekan ketidaksetaraan, meningkatkan kesehatan, dan melindungi planet,” ucap Saadia dalam siaran pers, baru-baru ini.

Chief Risk Office Grup Zurich Insurance Group, Peter Giger mengutarakan, bahwa percepatan transformasi digital yang terpacu pandemi sebetulnya menjanjikan keuntungan besar, seperti misalnya adanya hampir 100 juta pekerjaan baru pada 2025. Tapi pada saat yang sama, digitalisasi dapat menggantikan sekitar 85 juta pekerjaan, dan karena 60 persen orang dewasa saat ini belum memiliki keterampilan dasar digital, risikonya adalah memperburuk ketidaksetaraan yang ada.

“Risiko jangka panjang terbesar masih seputar kegagalan dalam menghadapi perubahan iklim. Tidak ada vaksin terhadap risiko iklim, jadi rencana pemulihan pascapandemi harus berfokus pada pertumbuhan yang selaras dengan agenda-agenda keberlanjutan,” kata Peter.

Pandemi pada 2020 diibaratkan sebuah uji stres yang benar-benar mengguncang landasan perekonomian dan masyarakat seluruh dunia. Membangun kembali ketahanan terhadap gangguan sistemik memerlukan pendanaan yang tidak sedikit. Tak hanya itu, juga diperlukan kerja sama internasional dan ikatan sosial yang lebih besar. 

“Ketahanan  akan bergantung kepada pertumbuhan yang berkelanjutan di seluruh dunia. Dan seperti kita tahu, perekonomian yang melakukan digitalisasi lebih awal mengalami kinerja lebih baik pada  2020,” kata Lee Hyung-hee selaku President, Social Value Committee, SK Group. “Penerapan 5G dan kecerdasan buatan secara berkelanjutan bisa muncul sebagai mesin pertumbuhan, maka kita harus segera menjembatani kesenjangan digital dan mengatasi risiko etika,” imbuhnya.

Laporan Risiko Global 2021 disusun dengan dukungan Dewan Penasihat Risiko Global dari Forum Ekonomi Dunia / WEF. Laporan ini juga mendapat dukungan melalui kolaborasi berkelanjutan dengan mitra strategis yaitu Marsh McLennan, SK Group dan Zurich Insurance Group serta penasihat akademis di Oxford Martin School (University of Oxford), National University of Singapore dan Wharton Risk Management and Decision Processes Center (University of Pennsylvania).

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

Video Pilihan

Artikel Terkait