Komnas KIPI: Tak Perlu Khawatir dengan Efek Samping Vaksin Covid-19

Sejauh ini, efek samping yang terjadi masih bersifat ringan dan tidak menimbulkan reaksi serius.
Image title
Oleh Alfons Yoshio - Tim Riset dan Publikasi
21 Februari 2021, 14:12
VAKSINASI COVID-19 DOSIS KEDUA DI BANDUNG
ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/wsj.

Vaksinasi Covid-19 di Indonesia sudah dimulai sejak 13 Januari 2020 lalu. Pekan ini memasuki tahap berikutnya. Dengan demikian,  semakin banyak orang yang ditargetkan menjadi penerima vaksin. Namun, di saat yang bersamaan muncul juga kekhawatiran dari masyarakat terkait kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI) alia efek samping vaksin Corona.

Ketua Komnas KIPI Hindra Irawan Satari menjelaskan berdasarkan evaluasi dari vaksinasi yang sudah diberikan kepada tenaga kesehatan, efek samping yang terjadi masih bersifat ringan  dan tidak menimbulkan reaksi serius.

"Dari laporan KIPI yang masuk ke kami, semua bersifat ringan dan sesuai dengan yang dilaporkan jurnal-jurnal, dan di tempat lain, semua kondisinya sehat. Jadi, tidak ada yang memerlukan perhatian khusus sampai saat ini," katanya dikutip dari CNBC beberapa waktu lalu.

Adapun efek samping yang paling banyak ditemui adalah gatal dan mengantuk. Efek lainnya yang bersifat lokal, alias ada di lokasi penyutikan, dan banyak dialami adalah bengkak, kemerahan, dan pegal. Sedangkan gejala umum pascaimunisasi laiinya yang juga sering terjadi adalah demam, pusing, nafsu makan berkurang, dan nyeri otot.

Semua gejala ini menurut Hindra wajar terjadi dan pada kebanyakan kasus tidak memerukan penanganan serius.

Sementara itu, berdasarkan informasi dari Pusat Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC) pun, efek samping nyeri dan bengkak di lengan yang disuntikan, demam, menggigil, kelelahan, dan sakit kepala adalah gejala yang normal.

Bahkan menurut Sunita Posina, dokter internis dari Stony Brook New York, kondisi gejala seperti demam justru menjadi penanda vaksin bekerja. “Itu berarti tubuh Anda sedang mengajari sistem imun untuk mengenali dan melawan virus,” katanya seperti dikutip dari Livestrong.

Di sisi lain, kalaupun tidak ada gejala seperti flu atau demam setelah imunisasi bukan berarti vaksin tidak bekerja. Sebab, tubuh setiap orang memiliki reaksi yang berbeda-beda. Posina juga menjelaskan kalau vaksin yang sudah disetujui tidak mengandung virus hidup, jadi seharusnya vaksin tidak akan menyebabkan penyakit.

Lebih lanjut, dokter Posina juga memberikan beberapa saran untuk menghindari atau mengurangi efek samping akibat penyutikan vaksin. Sebelum penyutikan, hindari meminum obat penghilang rasa sakit seperti ibuprofen (Advil) atau acetaminophen (Tylenol). Karena sejauh ini, pengembang vaksin dan peneliti tidak memasukkan variabel ini ke dalam penelitian uji coba, sehingga pengaruh terhadap sistem kekebalan tubuh belum diketahui.

Selain itu, tidak semua orang mengalami efek samping sehingga tidak ada alasan untuk mengonsumsi obat tidak diperlukan. Justru ada potensi membuka diri pada potensi efek samping dari obat itu sendiri. Pengecualian bisa diberikan jika memang ada kondisi harus secara teratur menggunakan penghilang rasa nyeri. Namun untuk lebih aman, sebaiknya konsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

Saran berikutnya, setelah penyuntikan, gerakan tangan untuk meningkatkan aliran darah dan melatih otot, “Menggerakkan anggota tubuh dapat mengurangi rasa sakit dan bengkak di tempat suntikan,” tutur Posina. Selain itu, bisa juga dengan mengkompres tempat yang disuntikan dengan air dingin. Hal ini dipercaya dapat mengunrangi pembengkakan.

Terakhir kalau-kalau ada gejala demam, meminum obat seperti acetaminophen (Tylenol) tidak menjadi masalah. Tetapi yang terpenting, jika kondisi kurang sehat setelah vaksinasi, berbaring dan istirahat serta perbanyak minum air untuk menjaga kadar cairan dalam tubuh.

Idealnya efek samping umum dan ringan akan hilang dalam beberapa hari. Rekomendasi CDC, jika kemerahan dan nyeri di lengan Anda memburuk setelah 24 jam atau efek samping tidak membaik meupun hilang setelah beberapa hari, hubungi dokter. Termasuk jika Anda mengalami demam tinggi (lebih dari 40 derajat celcius) selama tiga hari berturut-turut atau mengalami masalah pernapasan, nyeri dada, dan mengi. Karena efek samping tersebut tidak diharapkan terjadi, terlebih membutuhkan perhatian medis.

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait