Monitoring dan Hiburan Bisa Menjaga Kesehatan Jiwa Selama Pandemi

Terdapat peningkatan prevalensi gangguan jiwa di tengah masyarakat dari 11,6 persen sebelum pandemi menjadi 57,6 persen setelah pandemi.
Dini Hariyanti
7 Maret 2021, 09:00
Mural bergambar petugas kesehatan terlihat di dinding Rumah Sakit Darurat Kota, ditengah wabah penyakit virus corona (COVID-19) di Lviv, Ukraina, Minggu (21/6/2020).
ANTARA FOTO/REUTERS/Pavlo Palamarchuk/hp/dj
Ilustrasi. Mural bergambar petugas kesehatan terlihat di dinding Rumah Sakit Darurat Kota, ditengah wabah penyakit virus corona (COVID-19) di Lviv, Ukraina, Minggu (21/6/2020).

Masa pandemi merupakan masa yang penuh dengan ketidakpastian. Begitu banyak perubahan yang terjadi dalam kehidupan, tetapi lingkungan keluarga yang kondusif dapat memberi penghiburan kepada seorang individu.

Di dalam ulasan soal kesehatan jiwa (keswa) keluarga yang dirilis Satgas Penanganan Covid-19 diketahui, setidaknya ada enam dampak pandemi terhadap keswa di lingkungan keluarga. Mulai dari bosan karena ruang gerak terbatas, cemas dan stres, ketakutan akan penyakit, kebingungan akibat banyaknya informasi, stigma sosial, serta perubahan pola komunikasi.

Data dari Satgas Bidang Perubahan Perilaku menunjukkan adanya peningkatan prevalensi gangguan jiwa di tengah masyarakat dari 11,6 persen sebelum pandemi menjadi 57,6 persen setelah pandemi.

Maka dari itu, harus ada upaya preventif dan sarana pendukung kesehatan mental untuk membentuk jiwa yang sehat selama pandemi. Juga, mempercepat kesembuhan pasien Corona.

Advertisement

Salah satunya yang dilakukan oleh Rumah Sakit Lapasangan Indrapura Surabaya. Rumah sakit itu memiliki konsep monitoring cepat pada semua pasien yang dilakukan setiap hari secara berkala, yakni pagi, siang, sore dan malam hari.

Laksama Pertama TNI, dr I Dewa Gede Nalendra, kepala RS Lapangan Indrapura Surabaya, mengatakan hasil monitoring pasien Covid-19 ini lantas dievaluasi satu per satu dan akan dilaporkan pada pagi harinya.

Selain monitoring berkala, mereka telah menerapkan konsep "be happy" sejak awal terbentuknya rumah sakit darurat tersebut. Konsep ini fokus pada memberikan suasana senang bagi pasien Covid-19 agar cepat membangun antibodi dan imunitas tubuh.

“Hiburan sangat penting untuk meningkatkan imunitas tubuh. Karena hiburan bisa mengurangi dan menghilangkan stres pada pasien," kata dr I Dewa Gede Nalendra dalam talkshow virtual 'Mewujudkan Rekreasi Mental bagi Nakes dan Pasien Covid-19' melalui YouTube BNPB Indonesia, Jumat (5/3/2021) mengutip Suara.com. "Kita tahu stres juga sangat mempengaruhi imunitas tubuh." 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melansir, dukungan kesehatan jiwa dan psikososial selayaknya diberikan berjenjang sesuai kondisi yang dihadapi seseorang. Setidaknya ada empat kondisi kesehatan jiwa yang diklasifikasikan WHO, yaitu stres dan masalah psikologis ringan, stres dan masalah psikologis sedang, masalah kejiwaan, dan gangguan kejiwaan.

Masing-masing kondisi perlu mendapatkan perawatan yang berbeda. Misalnya, masalah psikologis ringan dan sedang bisa difasilitasi untuk memperoleh pendampingan dari komunitas terlatih. Sementara itu, masalah kejiwaan diarahkan untuk menjangkau psikolog, perawat / pekerja sosial / dokter umum / terapi okupasi. Sedangkan bagi yang mengalami gangguan jiwa disarankan untuk berkonsultasi dengan psikolog klinis / psikiater / perawat jiwa.

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait