Memikat Pelancong Melalui Hutan Wisata

Mengelola Perhutanan Sosial bisa untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Salah satunya memanfaatkan Hutan Kemasyarakatan (HKm) menjadi tujuan wisata.
Image title
Oleh Fitria Nurhayati - Tim Riset dan Publikasi
1 September 2020, 15:05

Pemanfaatan Hutan  Kemasyarakatan (HKm) menjadi tujuan wisata tersebar di 20 provinsi Indonesia. Berdasarkan data Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Kementerian Lingkungan Hidup dan  Kehutanan, provinsi dengan pemanfaatan HKm sebagai area wisata paling banyak di Jawa Timur 17 lokasi, disusul Sulawesi Selatan 15 lokasi, dan Kalimantan Selatan 11 lokasi.

Bermacam rupa wisata alam khas daerah jadi andalan. Sebut saja dari wisata lingkungan ada wisata hutan mangrove, pantai, hutan alam, danau, air terjun, goa, juga agrowisata. Selain itu, beberapa KUPS juga mengembangkan wisata spiritual.

Dua HKm Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta bisa menjadi contoh KUPS sukses, yaitu HKm Mandiri di Desa Wisata Kalibiru di Kulonprogo dan HKm Tani Manunggal yang mengelola wisata goa Rancong Kencono dan air terjun Sri Gethuk di Wonosari. Ratusan orang terlibat dalam pengelolaan lokasi wisata tersebut.

Dengan mengoptimalkan sumber daya, jumlah pengunjung naik 17-18 kali lebih banyak dibanding tahun 2013. Keuntungan yang didapatkan dari pembayaran tiket di Desa Wisata Kalibiru pada tahun 2018 mencapai Rp 3,6 sampai Rp 7,2 miliar. Sedangkan HKm Tani Manunggal meraup pendapatan dari tiket senilai Rp 1,2 miliar.  

Kesuksesan kelompk HKm tersebut tidak terlepas dari peran mitra seperti LSM dan pihak swasta. Dengan bermitra, kelompok usaha mendapatkan pendampingan, pelatihan manajemen usaha, bisa mengakses modal, serta mendapatkan akses pasar.