Green Jobs, Masa Depan Ekonomi dan Lapangan Kerja

Pandemi Covid-19 menjadi momentum bagi banyak negara untuk meninggalkan model ekonomi intensif karbon ke arah ekonomi hijau
Image title
Oleh Alfons Yoshio - Tim Riset dan Publikasi
13 November 2020, 18:07

Ekonomi hijau diyakini dapat menyokong pertumbuhan berkelanjutan dan membangun lebih banyak lapangan pekerjaan, serta menjaga kelestarian alam di saat yang bersamaan. People, planet, dan profit menjadi tiga komponen penting dalam mengembangkan sistem ekonomi yang ramah lingkungan.

Pembangunan ekonomi yang merusak lingkungan berpotensi melahirkan “ongkos” bagi perekonomian itu sendiri. Analisis McKinsey Global Institute (2020) menunjukkan PDB 105 negara berpotensi terdampak perubahan iklim. Perubahan iklim serta kerusakan lingkungan menimbulkan ongkos yang besar bagi PDB, kesejahteraan, dan lapangan kerja. Mengacu data Word Economic Forum (2020), lebih dari separuh PDB global, senilai US$ 44 triliun, terancam hilang karena rusaknya alam.

Kondisi pandemi Covid-19 menjadi momentum bagi banyak negara untuk meninggalkan model ekonomi intensif karbon ke arah ekonomi hijau. Indonesia pun bisa juga memulainya dengan memasukan unsur ekonomi hijau dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional.

Sejalan dengan ekonomi hijau, akan tercipta banyak pekerjaan ramah lingkungan (green jobs) yang terbentuk. Laporan World Economic Forum menunjukkan transisi hijau di tiga sistem sosio-ekonomi yaitu pangan, pemanfaatan lahan dan laut; infrastruktur dan lingkungan buatan; serta energi dan industri ekstraktif dapat menghasilkan peluang bisnis senilai US$ 10,1 triliun dan 395 juta lapangan pekerjaan pada tahun 2030.

Dalam ASEAN Labour Ministers Meeting (ALMM) ke-25, Indonesia bersama negara-negara tetangga juga menyatakan komitmennya untuk mengkampanyekan green jobs.