Proyek Listrik 35.000 MW Beroperasi Penuh Lima Tahun Lagi

Hingga 2018, pembangkit yang beroperasi hanya 2.899 MW.
Anggita Rezki Amelia
25 Januari 2019, 10:35
PLN 35.000 MW
PLN

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan proyek listrik 35 ribu megawatt (MW) tidak akan selesai tahun ini sesuai target awal. Proyek itu akan selesai dalam lima tahun lagi.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Andy Noorsaman Sommeng mengatakan proyek 35 ribu MW masih dalam penyusunan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) tahun 2019-2028, tapi ada beberapa pembangkit yang mengalami pergeseran masa operasi. "Tetap 2024 yang program 35 ribu MW itu pasti (beroperasi)," kata dia di Jakarta, Kamis malam (24/1).

Sementara itu, hingga tahun 2018, pembangkit listrik Program 35 ribu MW yang beroperasi masih jauh dari target. Menurut data Kementerian ESDM, tahun lalu, proyek listrik yang sudah beroperasi baru mencapai 2.899 MW atau 8% dari target.

Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jisman Hutajulu mengatakan rendahnya capaian pembangkit yang beroperasi tahun lalu karena beberapa pembangkit berhenti pada tahap konstruksi terkendala pembebasan lahan. "Ada yang masih terkendala," kata dia di Jakarta, Kamis (10/1/2018).

Advertisement

Proyek 35 ribu MW yang sudah masuk konstruksi sampai akhir tahun lalu sebesar 18.207 MW atau 52%. Itu terdiri dari pembangkit milik PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero) dan Produsen Listrik Swasta (Independent Power Producer/IPP).

Proyek yang sudah memasuki perjanjian jual beli listrik (Power Purchasing Agreement/PPA) mencapai 11.467 MW atau 32%. Sedangkan yang baru memasuki perencanaan sebesar 954 MW atau 3% dan 1.683 MW sudah masuk tahap pengadaan.

Kementerian ESDM menargetkan, tahun ini pembangkit yang beroperasi meningkat. Pada periode 2019 targetnya, ada tambahan untuk pembangkit yang beroperasi secara komersial atau COD sebesar 3,976 MW.

Dalam RUPTL 2019 hingga 2028 ini, Kementerian ESDM tidak memangkas pembangkit berbahan bakar gas.  Alasannya, pembangkit gas itu masih menjadi andalan saat beban puncak (peaker).

(Baca: RUPTL 2019-2028: Porsi Pembangkit Listrik Tenaga Gas Batal Dikurangi)

Andy mengatakan porsi pembangkit listrik gas RUPTL tahun 2019-2028 sekitar 22%, tidak jauh berbeda dari periode sebelumnya 22,2%.  "Tadinya mau turun tapi tidak bisa, dan tetap stabil," kata dia.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait