Harum Energy Minta Restu Pemegang Saham Kucurkan Rp 229 M Demi Buyback

Alasan membeli saham kembali karena harganya sudah terlalu murah.
Image title
18 Januari 2019, 19:13
Tambang Batu Bara
Donang Wahyu|KATADATA

PT Harum Energy Tbk tengah menyiapkan dana US$ 16,2 juta atau sekitar Rp 229 miliar untuk membeli kembali sahamnya (buyback). Alasan membeli saham kembali adalah harga yang sudah terlalu rendah.

Adapun saham yang akan dibeli mencapai 133.379.900 lembar atau 4,93% dari modal. "Maksimum cuma 10%, sebelumnya sudah 5,07%," kata Direktur Utama Harum Energy, Ray Antonio Gunara, di Jakarta, Jumat (18/1).

Untuk mendapatkan persetujuan tersebut, perseroan mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) luar biasa pada hari ini. Adapun, keputusannya akan diumumkan pada 22 Januari 2018

Dana tersebut berasal dari saldo laba yang dimiliki perseroan. Saham yang akan dibeli kembali itu ditempatkan sebagai treasury stock untuk jangka waktu tidak lebih dari tiga tahun tanpa menutup kemungkinan dapat melakukan pengalihan atas saham hasil buyback.

Advertisement

Selain karena dianggap nilai saham sudah terlalu rendah, pertimbangan membeli kembali saham adalah meningkatkan pengembalian ekuitas (Return on Equity/ROE). Pertimbangan lain adalah memberikan fleksibilitas yang lebih besar bagi perseroan dalam mengelola modal.

Pembelian saham itu juga diharapkan memaksimalkan pengembalian kepada pemegang saham. "Juga untuk membantu likuiditas," kata Ray.

Sementara itu, tahun ini, PT Harum Energy menargetkan produksi batu bara bisa meningkat 5% menjadi 5 juta ton dari tahun lalu hanya 4,8 juta ton. Target ini sebenarnya bisa lebih tinggi jika kondisi harga batu bara meningkat.

Ray menyatakan target itu ditetapkan 5 juta ton karena harga batu bara masih rendah. Alhasi, perusahaan pun membatasi produksi.

(Baca: Target Produksi Batu Bara Harum Energy Tahun Ini Naik 200 Ribu Ton)

Harum Energy akan meningkatkan produksi jika Tiongkok tidak membatasi kuota ekspor batu bara."Sebetulnya kami rencana mau lebih tinggi, tapi harga masih fluktuatif, dan kondisi pasar belum membaik," kata Ray, di Jakarta, Jumat (18/1).

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait