Proyek Listrik 35 Ribu MW Baru Beroperasi 8%

Proyek 35.000 MW ini terkendala pembebasan lahan untuk tahap konstruksi.
Image title
10 Januari 2019, 21:24
Pembangkit Listrik Muara Tawar, Bekasi
Arief Kamaludin|KATADATA

Pembangunan pembangkit listrik yang menjadi Program 35 ribu Megawatt (MW) masih jauh dari target. Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), hingga 2018, proyek listrik yang sudah beroperasi baru mencapai 2.899 MW atau 8% dari target.

Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jisman Hutajulu mengatakan rendahnya capaian itu karena beberapa pembangkit berhenti pada tahap konstruksi karena terkendala pembebasan lahan. "Ada yang masih terkendala," kata dia di Jakarta, Kamis (10/1).

Meski begitu, hingga Desember 2018 proyek 35 ribu MW yang sudah masuk konstruksi sebesar 18.207 MW atau 52%. Itu terdiri dari pembangkit milikPT Perusahaan Listrik Negara (PLN)(Persero) dan Produsen Listrik Swasta (Independet Power Producer/IPP).

Adapun, yang sudah memasuki perjanjian jual beli listrik (Power Purchasing Agreement/PPA) mencapai 11.467 MWatau 32%. Sedangkan yang baru memasuki perencanaan sebesar 954 MW atau 3% dan 1.683 MW sudah masuk tahap pengadaan.

Advertisement

Kementerian ESDM menargetkan, tahun ini pembangkit yang beroperasi meningkat. Pada periode 2019 targetnya, ada tambahan untuk pembangkit yang sudah beroperasi secara komersial (Comercial Operation Date/COD) sebesar 3,976 MW.

(Baca: Jonan Pesimistis Target Proyek Listrik 35 Ribu MW Tercapai)

Pembangkit listrik yang akan ditingkatkan adalah Pembangkit listrik Tenaga Gas (PLTG). Ini akan tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN untuk periode 2019-2028. Namun, pihaknya belum dapat memastikan berapa besar kenaikannya, karena masih dalam proses pembahasan.

Alasan PLTG ditingkatkan karena kinerja energi yang bersumber dari gas ini membuat pembangkit listrik bisa beroperasi secara optimal. "Gas itu dia dari awal hingga puncak beban cepat sekali, kalau energi baru terbarukan jam 4 sudah hilang," kata Jisman.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait