BMKG Diminta Pasang Pengukur Ketinggian Air Laut Antisipasi Tsunami

BMKG diminta pasang alat ukur pasang surut air laut di Pulau Rakata dengan pertimbangan aspek geologi.
Anggita Rezki Amelia
31 Desember 2018, 17:31
Letusan Anak Gunung Krakatau
ANTARA FOTO/Bisnis Indonesia/Nurul Hidayat
Foto udara letusan gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Minggu (23/12). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan telah terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau, di Selat Sunda pada Sabtu, 22 Desember 2018 pukul 17.22 WIB dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 1.500 meter di atas puncak (sekitar 1.838 meter di atas permukaan laut). ANTARA FOTO/Bisnis Indonesia/Nurul Hidayat

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merekomendasikan agar Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memasang "tidal gauge" di Pulau Rakata, di Selat Sunda untuk peringatan dini tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Tidal Gauge adalah alat pengukur pasang surut air laut.

Sekretaris Badan Geologi, Antonius Rardomopurbo mengatakan pemilihan Pulau Rakata dengan mempertimbangkan beberapa aspek. "Pilihan Pulau Rakata ini didasarkan pertimbangan dari sebaran struktur geologi yang ada di Selat Sunda," kata dia di Jakarta, Senin (31/12).

Berdasarkan hasil evaluasi seismik dan data visual yang dilakukan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM terhadap Gunung Anak Krakatau, hingga tanggal 30 Desember 2018 teramati terjadinya letusan Surtseyan dengan frekuensi sangat minim yakni dua jam sekali. Catatan kegempaan juga menunjukkan penurunan.

Dengan data itu, potensi tsunami masih kecil ."Aktivitas letusan menurun sehingga risiko juga menurun," kata Purbo.

Advertisement

Meski aktivitas gunung menurun, Antonius tetap mengimbau masyarakat agar tetap waspada. Apalagi. pihaknya belum menurunkan status gunung tersebut alias masih di level Siaga (Level III).

Ada beberapa hal agar dipatuhi oleh masyarakat dengan kondisi alam yang terjadi saat ini. Pertama, tidak memasuki area dalam radius lima kilometer (km) dari Kawah. Kedua, tidak mendekat ke Komplek Krakatau.

Adapun, aktivitas erupsi dengan laju besar pada tanggal 26-27 Desember 2018 telah menyebabkan puncak Gunung Anak Krakatau yang terbangun sejak 1950 hilang. Gunung Anak Krakatau kini hanya memiliki ketinggian 110 m dpi dari semula 338 m dpi.

Sebagian puncak gunung ikut terletuskan dan sebagian longsor. Puncak aktivitas letusan sudah terjadi mulai  26 Desember dan selesai  27 Desember 2018 pukul 23.00.

Posisi kawah yang berada di permukaan atau sedikit di bawah permukaan air laut menjadikan tipe letusan berubah dari Strombolian ke Surtseyan. Letusan jenis ini tidak akan menimbulkan tsunami karena terjadi di permukaan air dan material cenderung terlempar ke udara secara total.

Menurut Antonius, aktivitas Gunung Anak Krakatau sekarang dipantau dengan beberapa  stasiun seismik di lereng  dan di Pulau Sertung (SRT). Stasiun seismik yang dipasang di tubuh Anak Krakatau akan terdampak langsung letusan apabila terjadi erupsi.

(Baca: Volume Anak Krakatau Tersisa 30% Pasca Erupsi, Potensi Tsunami Minim)

Stasiun seismik di Anak Krakatau penting untuk mendeteksi perubahan fase tenang dan erupsi. Ini karena di awal akan tercatat gempa-gempa vulkanik berukuran kecil dan sulit tercatat di stasiun seismik yang lebih jauh. Akan tetapi, ketika aktivitasnya tinggi, stasiun di Pulau Sertung bisa mencatat dengan jelas. 

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait