Cosmo Oil Mundur, Mitra Pertamina di Kilang Bontang Kini Hanya OOG

Kilang itu akan digarap dengan perusahaan asal Oman Over Seas Oil & Gas LLC (OOG).
Anggita Rezki Amelia
10 Desember 2018, 13:58
Kilang Minyak
KATADATA
Kilang Minyak

Cosmo Oil International Pte Ltd (COI) menyatakan mundur dari perusahaan konsorsium yang akan menjadi mitra PT Pertamina (Persero) membangun kilang minyak baru di Bontang, Kalimantan Timur. Dengan begitu, kini mitra Pertamina hanya Over Seas Oil & Gas LLC (OOG).

Awalnya Cosmo Oil dan OOG bekerja sama membentuk satu konsorsium membangun Kilang Bontang. Namun, menurut Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Risiko Pertamina Heru Setiawan, Cosmo menyatakan tidak melanjutkan kerja sama, tanpa tahu alasannya. “Itu pertimbangan mereka," kata dia di Jakarta, Senin (10/12).

Meski begitu, Pertamina tetap melanjutkan kemitraan dengan OOG. Pertamina dan OOG hari ini menandatangani kesepakatan kerangka kerja (framework agreement) untuk membangun kilang berkapasitas 300.000 barrel/hari dan Petrokimia di Bontang, Kalimantan Timur.

OOG merupakan badan usaha jasa hilir migas asal Muscat, Oman. Mereka memiliki bisnis jasa konstruksi, manajemen proyek, dukungan operasi dan pemeliharaan, serta solusi teknik dan konstruksi.

Advertisement

OOG terpilih menjadi mitra Pertamina setelah melewati proses seleksi pada Januari 2018 lalu.  "Kami tetapkan kriteria, seperti finansial yang kuat," kata Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati. 

Pertamina memiliki hak kelola di Kilang Bontang sekitar 10-30%. Sisanya mayoritas dimiliki oleh OOG. Alasan OOG menjadi mayoritas di kilang tersebut untuk menghemat belanja modal Pertamina. Dengan begitu, Pertamina bisa melakukan ekspansi bisnisnya dan kilang lainnya seperti di Balikpapan, Cilacap, Balongan dan Tuban.

Meski begitu, Pertamina akan membeli sebagian produk olahan kilang seperti bensin, Avtur, dan elpiji. Produk ini nantinya untuk memenuhi dalam negeri. Jika, kebutuhan dalam negeri tercukupi, akan diekspor.

Perjanjian kerangka kerja ini berlaku 12 bulan. Setelah itu dilanjutkan ke studi kelayakan pendanaan (Bankable Feasibility Study).  Studi ini akan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang konfigurasi teknis kilang dan keekonomian proyek serta mengenal risiko-risiko yang dapat diantisipasi sejak dini untuk pelaksanaan proyek yang tepat waktu, sesuai anggaran, pada spesifikasi, pada peraturan, dan mencapai target keekonomian proyek.

(Baca: Konsorsium Oman-Jepang Jadi Mitra Pertamina di Kilang Bontang)

Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina Ignatius Tallulembang mengatakan Kilang Bontang akan memiliki kapasitas 300 ribu barel per hari.  Bahan baku kilang ini akan dipasok OOG dan Pertamina. Namun, Pertamina hanya sebesar 20%.

Ignatius mengatakan nilai proyek itu mencapai US$ 10 miliar. Itu sudah termasuk dengan proyek petrokimia. 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait