Kemenko Maritim Dorong Penggunaan Produk Dalam Negeri

Penggunaan dalam negeri penting agar industri tidak mati.
Image title
22 November 2018, 21:21
Migas
Dok. Chevron

Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Kemenko Kemaritiman Ridwan Djamaluddin mendorong agar proyek di Indonesia, termasuk minyak dan gas bumi (migas) menggunakan produk dalam negeri. Tujuannya agar industri dalam negeri tidak mati.

Menurut Ridwan, jika infratsruktur merupakan tulang punggung pembangunan, yang menjadi dagingnya adalah industrialisasi. Industri dalam negeri akan maju, jika ada permintaan dari konsumen.

Sebagai contoh, kapal perang yang diproduksi Indonesia kini diekspor ke Vietnam. Namun, yang dipakai dalam negeri justru barang impor. “Kita beli juga dong. Jangan impor," kata Ridwan, di Jakarta, Kamis (22/11).

Contoh lainnya dalam proyek hulu migas yang masih menggunakan komponen luar negeri. Akan tetapi, mereka memiliki alasan menggunakan impor karena komponen yang ada di dalam negeri yang dibutuhkan lebih mahal.

Advertisement

Porsi penggunaan produk dalam negeri di industri hulu migas meningkat sejak dua tahun terakhir. Berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), hingga September 2018, Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) industri hulu migas sekitar 62,58% dari total pengadaan barang dan jasa US$ 3 miliar.

Secara persentase, capaian itu memang lebih tinggi dari dua tahun sebelumnya. Namun, nilainya turun. Tahun 2016, TKDN hanya 55% dari total pengadaan US$ 10,1 miliar. Setahun berikutnya naik menjadi 58% dari seluruh pengadaan yang mencapai US$ 5,6 miliar.

Ridwan mengatakan Indonesia seharusnya bisa berkaca dari India yang gencar menumbuhkan penggunaan barang lokal, atau bahkan memproduksinya sendiri (made in India).  

(Baca: Porsi Penggunaan Produk Lokal di Industri Hulu Migas Naik Sejak 2016)

Tak hanya itu, Indonesia juga bisa mencontoh Tiongkok dalam penggunaan produk dalam negeri. "Di Tiongkok itu kontribusinya science 2,5% dari Gross Domestic Product. Artinya produk seperti yang dihasilkan Institut Teknologi Bandung dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) itu dipakai," kata Ridwan.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait