Lampaui US$ 80 per Barel, Harga Minyak Brent Tertinggi Sejak 2014

Harga minyak itu diprediksi terus meningkat bahkan bisa menyentuh level US$ 100 per barel tahun depan.
Anggita Rezki Amelia
24 September 2018, 18:22
Sumur Minyak
Chevron

Harga minyak mentah jenis Brent di pasar dunia sudah melewati level US$ 80 per barel. Ini merupakan level tertinggi sejak November 2014 lalu.

Harga Brent untuk kontrak November di bursa ICE Futures Europe Senin (24/9) pukul 6.12 AM waktu Eastern Time atau pukul 17.28 WIB telah mencapai US$ 80,67 per barel. Sementara harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) berada di harga US$ 72,13 per barel untuk kontrak November mendatang.

Ada beberapa faktor yang memicu Brent terus meningkat. Salah satunya faktor adalah berkurangnya pasokan minyak dunia, menjelang berlakunya sanksi AS terhadap Iran pada November mendatang.

Mengutip Bloomberg, Bank Amerika Merrill Lynch dan JP Morgan Chase & C bahkan memprediksi harga minyak terus meningkat. Semester I tahun depan harga minyak mentah diharapkan bisa mencapai US$ 95 per barel.

Advertisement

Arab Saudi pun mengisyaratkan tidak ingin terburu-buru untuk menurunkan harga minyak dari level saat ini. Apalagi semua pelanggan bisa menerima pasokan.  "Pasar dipasok dengan baik," kata Menteri Energi Saudi, Khalid Al-Falih mengutip Bloomberg, Senin (24/9).

Dalam Konferensi Minyak Asia Pasifik tahunan di Singapura, Senin (24/9), Co-founder Mercuria Daniel Jaeggi mengatakan harga ini bisa terus meningkat jika tidak ada tindakan cepat dari OPEC. Bahkan minyak mentah Brent diramal bisa menyentuh level lebih dari US$ 100 per barel pada kuartal keempat tahun ini.

Kenaikan ini dipicu karena pasar tidak memiliki banyak kapasitas yang tersisa untuk menggantikan pasokan Iran. Namun, OPEC dan mitra-mitranya akan meningkatkan pasokan minyak jika pelanggan menginginkan lebih banyak kargo.

(Baca: 5 Faktor yang Mempengaruhi Harga Minyak Dunia)

Sementara itu, Kepala Perdagangan Minyak Trafigura Ben Luckock menilai harga minyak dunia bakal menyentuh US$ 90 pada Natal atau Desember mendatang. Lalu, bisa menyentuh US$ 100 pada awal 2019.

Reporter: Anggita Rezki Amelia
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait