Jonan Instruksikan PLN Gunakan Minyak Sawit Demi Kurangi Impor Solar

Saat ini ada 2.000 MW pembangkit listrik tenaga diesel yang berpotensi beralih ke minyak sawit.
Anggita Rezki Amelia
18 September 2018, 15:05
Listrik
Katadata | Arief Kamaludin

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan memerintahkan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk mengubah bahan bakar pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dari Solar ke minyak sawit . Tujuannya untuk mengurangi impor Solar.

Saat ini ada sekitar 2.000 MW PLTD yang masih menggunakan Solar sebagai bahan bakar. Pembangkit tersebut tersebar di seluruh Indonesia, terutama daerah terluar dan pulau-pulau terpencil.

Pembangkit itu menurut Jonan harus diubah menjadi berbahan bakar sawit. "Kami ubah pakai minyak sawit bisa sampai 100%. Kami ada kirim surat ke PLN, " ujar Jonan di Tangerang, Selasa (18/9).

Jonan memberi waktu PLN untuk bisa mengubah PLTD ke pembangkit berbahan minyak sawit selama dua tahun ke depan.  Ini karena sudah banyak perusahaan sawit yang bisa mendukung PLN dalam memberikan pasokan minyak sawit untuk pembangkit PLN. 

Advertisement

Penggunaan minyak sawit ini harapannya bisa mengurangi ketergantungan impor Bahan Bakar Minyak (BBM), sehingga membantu nilai tukar Rupiah. Selain itu, penggunaan pembangkit bahan minyak sawit memberikan kontribusi untuk lingkungan yakni menciptakan energi bersih. 

Jika upaya ini tidak dilakukan, Jonan khawatir 10 tahun ke depan konsumsi BBM nasional akan meningkat.  Bahkan konsumsi itu bisa mencapai 1,8- 2 juta barel per hari (bph). Saat ini, konsumsi BBM sudah mencapai 1,3-1,4 juta bph.

(Baca: Kuota Solar Subsidi Tahun Depan Berkurang)

Membengkaknya impor itu tentu akan berdampak pada nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat. "Impor besar, kurs jadi terganggu. PLTD PLN itu harus diubah ke sawit atau green diesel," kata Jonan.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait