Pemerintah Bakal Putuskan Pengelola Blok Rokan Besok

Pertamina siap mengambil alih Blok Rokan.
Michael Reily
30 Juli 2018, 16:26
Sumur Minyak
Chevron

Pemerintah dikabarkan akan memutuskan nasib Blok Rokan pada Selasa (31/7). Blok minyak dan gas bumi yang tengah menjadi rebutan PT Pertamina (Persero) dan PT Chevron Pacific Indonesia ini akan berakhir kontraknya 2021.

Pelaksana tugas Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati juga menyampaikan jika pengelolaan Blok Rokan setelah kontrak berakhir akan diputuskan besok. Jadi, perusahaannya optimistis bisa mendapatkan hak pengelolaan blok tersebut. “Kami siap, besok akan diumumkan, doakan ya,” kata dia di Jakarta, Selasa (31/7).

Namun, Nicke menolak berkomentar tentang penawaran Pertamina terhadap PT Chevron Pacific Indonesia. Alasannya, proses penawaran masih berjalan. Jadi masih menunggu keputusan pemerintah.

Direktur Hulu Pertamina Syamsu Alam pernah mengatakan keinginan perusahaannya menjadi pengelola penuh di Blok Rokan. “Kami melihat kalau mendapatkan 100% dan operator memungkinkan dari segi Peraturan Menteri,” kata dia di Jakarta, Rabu (12/7).

Advertisement

Pertamina mengajukan proposal ambil alih Blok Rokan pada 28 Juni 2018 dan dilengkapi 25 Juli 2018. Dalam proposal itu, perusahaan pelat merah itu akan melanjutkan pemanfaatan teknologi tingkat lanjut (Enhanced Oil Recovery/EOR) yang selama ini digunakan Chevron.

Akan tetapi, Pertamina harus bersaing juga dengan Chevron yang masih ingin mengelola blok tersebut setelah kontrak berakhir. Perusahaan asal Amerika Serikat itu mengajukan proposal pada Jumat (20/7).

Setelah mengajukan proposal itu, Chevron intensif berkomunikasi dengan pemerintah. Bahkan Managing Director Chevron IndoAsia Business Unit Chuck Taylor dua kali bertemu langsung dengan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan yakni Selasa (24/7) dan Kamis (26/7).

Dalam pertemuan pertama,menurut Luhut, petinggi Chevron mengungkapkan rencana investasi sebesar US$ 88 miliar dalam 20 tahun jika kontrak diperpanjang. Kemudian bisa meningkatkan produksi hingga 700 ribu barel per hari.

Potensi Rokan

Meski tergolong tua, besarnya potensi yang ada di perut bumi Rokan ini bisa menjadi pemikat bagi setiap kontraktor. Selama bertahun-tahun Rokan menjadi salah satu penyumbang produksi siap jual (lifting) terbesar di Indonesia.

Meski selama semester I tahun 2018, lifting di bawah target, bukan berarti mengecilkan potensi Blok Rokan. Mengacu data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Blok Rokan masih bisa menghasilkan 207.148 barel per hari (bph) dari target 213.551 bph. Itu setara dengan 26% produksi nasional.

SKK Migas pun memprediksi lifting minyak Rokan di akhir 2018 akan mencapai 205.952 barel per hari (bph) atau dalam setahun sekitar 75 juta barel. Dengan capaian itu, Blok Rokan bisa menghasilkan pendapatan kotor hampir Rp 72 triliun. Ini dengan asumsi rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) saat ini sebesar US$ 66,55 miliar dan nilai tukar US$ 1 sebesar Rp 14.441.   

(Baca: Potensi Menggiurkan Blok Rokan yang Diperebutkan Chevron dan Pertamina)

Capaian itu tentu akan lebih besar jika menggunakan asumsi harga minyak yang mengalami tren naik ke level US$ 70 per barel. Potensi tersebut bahkan melampaui target laba Pertamina tahun ini sebesar US$ 2,5 miliar atau sekitar Rp 36 triliun. Adapun, berdasarkan laporan keuangan yang sudah diaudit, pendapatan Pertamina sepanjan 2015 mencapai US$ 42,5 miliar.

Reporter: Michael Reily
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait