Tujuh Kilang Minyak Pertamina Masuk Proyek Strategis Nasional

Pertamina optimistis proyek kilang akan selesai sesuai target.
Anggita Rezki Amelia
30 Juli 2018, 07:00
kilang cilacap
Katadata

Isu kebangkrutan yang menerpa PT Pertamina (Persero) ternyata tidak mempengaruhi pemerintah untuk tetap memasukkan proyek kilang sebagai bagian strategis nasional. Bahkan ada tujuh kilang minyak yang akan dibangun Pertamina telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional.

Direktur Program KPPIP Rainier Haryanto mengatakan tidak satu pun rencana pembangunan kilang yang dicoret dari bagian strategis nasional. "Lampiran proyek strategis nasional yang diterbitkan beberapa hari lalu, masih ada proyek kilang," kata dia kepada Katadata.co.id, Jumat (27/7).

Proyek Strategis Nasional tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 56 Tahun 2018 tentang percepatan pelaksanaan proyek strategis nasional. Ini merupakan perubahan kedua atas Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2016

Dalam aturan tersebut, kilang yang masuk Proyek Strategis Nasional adalah tujuh, dua di antaranya adalah kilang baru yakni Bontang dan Tuban.Kemudian ada lima proyek kilang modifikasi masing-masing di Jawa Tengah, Riau, Sumatera Selatan, Jawa Barat dan Kalimantan Timur.

Advertisement

Isu kebangkrutan itu pun tidak mengganggu rencana pembangunan kilang. Justru, Vice President Corporate Communication Pertamina Adiatma Sardjito optimistis proyek kilang tetap akan terus berjalan sesuai target.  "Masih on schedule,"kata Adiem.

Saat ini Pertamina masih fokus terhadap pembangunan kilang baru. Salah satunya kilang Tuban di Jawa Timur.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Djoko Siswanto menyatakan Pertamina bisa menggandeng mitra untuk mengurangi beban keuangan. "Dari segi pembiayaan pertamina bisa cari alternatif untuk cari partner lagi,"kata dia di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (27/7).

(Baca: Dana Terbatas, Pertamina Jadwal Ulang Proyek Kilang)

Saat ini, Pertamina memang harus menanggung beban keuangan. Salah satu penyebabnya adalah menjual Bahan Bakar Minyak (BBM) yang harganya ditahan sejak April 2016 lalu.

Reporter: Anggita Rezki Amelia
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait