Punya Kas Rp 16 Triliun, Inalum Cari Utang untuk Beli Saham Freeport

Image title
23 Juli 2018, 20:33
freeport-indonesia-proses-penambangan.jpg
KATADATA/

PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) optimistis bisa membeli mayoritas saham PT Freeport Indonesia. Ini mengacu pada kemampuan dan kondisi keuangan perusahaan pertambangan milik negara (BUMN) tersebut.

Juru bicara Inalum Rendi Witular mengatakan, pihaknya tidak hanya bergantung pada dana internal untuk membeli 40% hak kelola Rio Tinto yang akan dikonversi menjadi saham Freeport Indonesia dan 9,36% saham PT Indocopper Investama. Apalagi, sudah ada beberapa bank yang siap membantu pendanaan Inalum dalam upayanya memiliki 51% saham Freeport Indonesia.

Bank yang siap mendanai merupakan bank asing. Alasannya, perbankan dalam negeri tidak bisa mendanai itu karena ada keterbatasan likuiditas dolar Amerika Serikat.

Meski begitu, Rendi yakin, Inalum bisa melunasi utang tersebut. Keyakinan itu berkaca pada kinerja keuangan Inalum sepanjang tahun lalu. Pendapatan perusahaan ini sebesar Rp 47,18 triliun. Adapun, pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) mencapai Rp 12,3 triliun dengan margin EBITDA 26,13%. Alhasil, laba tahun berjalan Inalum pada 2017 sebesar Rp 6,8 triliun.

Per akhir tahun 2017, Inalum memiliki kas sebesar Rp 16,14 triliun. Sedangkan aset perusahaan mencapai Rp 93,2 triliun dengan Return on Equity (ROE) sebesar 10,3%.

Di sisi lain, kebutuhan dana Inalum untuk membeli hak kelola Rio Tinto dan saham Freeport milik Indocopper mencapai US$ 3,85 miliar atau sekitar Rp 55 triliun. Perinciannya US$ 3,5 miliar untuk 40% hak kelola Rio Tinto dan US$ 350 juta untuk 9,36% saham Indocopper. Atas dasar itu, Rendi optimistis Inalum bisa melunasi pinjamannya. “Kami sangat mampu," kata Rendi di Jakarta, Senin (23/7).

(Baca: Inalum Ungkap Dasar Perhitungan Harga Divestasi Freeport)

Menurut Rendi, harga divestasi itu mengacu dari potensi yang diperoleh perusahaan dari tambang, bukan cadangan. Ini karena cadangan di Tambang Grasberg sangat besar dan bisa mencapai tahun 2100. Jika itu ikut dihitung, nilainya kira-kira US$ 105 miliar.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait